Kekaburan Laba (Earnings Opacity)

Standar

 

 

Bhattacharya et al. (2003) memberikan definisi earnings opacity sebagai berikut:

earnings opacity of a country as the extent to which the distribution of reported earnings of firms in that country fails to provide information about the distribution of the true, but unobservable, economic earnings of firms in that country. As reported earnings of a particular firm in a country equals unobservable economic earnings plus a noise term, earnings opacity of a country is simply the average lack of informativeness of reported earnings in that country.”

 

Berdasarkan definisi tersebut, dapat dinyatakan bahwa earnings opacity merupakan distribusi laporan laba perusahaan gagal memberikan informasi mengenai distribusi laba ekonomi yang benar, tetapi tidak terukur. Laporan laba perusahaan (pada level negara) sama dengan laba ekonomi yang tak terukur ditambah noise term; earnings opacity (pada level negara) merupakan rata-rata sederhana dari lack keinformasian laporan laba.

Definisi tersebut mengacu pada kerangka konseptual yang dinyatakan oleh Bushman dan Smith (2001). Informasi akuntansi keuangan dapat diidentifikasi melalui tiga hal yaitu: (1) informasi akuntansi keuangan membantu investor untuk membedakan antara investasi baik dan buruk; (2) informasi akuntansi keuangan membantu investor membedakan manajer yang baik dan buruk, menurunkan agency cost, dan menurunkan biaya modal perusahaan; dan (3) informasi akuntansi yang berkualitas (accounting quality) dapat menurunkan asimetri informasi yang disebabkan oleh earnings opacity. Secara khusus, Bhattacharya et al. (2003) menggunakan tiga pengukuran angka laba yang mengarah earnings opacity yaitu: earnings aggressiveness, earnings smoothing, dan loss avoidance. Masing-masing dimensi earnings opacity disajikan berikut.

Earnings aggressiveness didefinisikan sebagai tindakan manajemen yang mengarah pada kecenderungan menunda pengakuan rugi dan mempercepat pangakuan laba, dan selanjutnya berdampak pada penurunan kualitas laba (Altamuro et al., 2005). Earnings aggressiveness merupakan tindakan manajemen yang berhubungan dengan manipulasi laba (Bedard dan Johnstone, 2004). Manipulasi laba dapat dilakukan dengan cara menaikkan nilai komponen akrual (seperti inventory) dan pada saat yang sama menurunkan biaya, sehingga laporan laba lebih tinggi daripada laba sesungguhnya (Chan et al., 2001). Jika perusahaan melakukan aggressive accounting, maka nilai buku sekarang dan laba lebih tinggi, tetapi forecast laba menjadi rendah dan biaya modal (dan atau laba normal) meningkat (Kothari, 2001). Kebijakan aggressive accounting antara lain dilakukan melalui kebijakan akrual. Motivasi manajemen akrual yang didasari oleh perilaku opportunistic berhubungan dengan kompensasi (Beaver, 2002).

Beberapa literatur menunjukkan bahwa earnings aggressive diukur dari level atau total akrual (Dechow et al., 1995; Barth et al., 2001; Bhattacharya et al., 2003). Secara khusus, Bhattacharya menentukan earnings aggressiveness diukur berdasarkan total accruals yang diperoleh dari perubahan total current assets dikurangi perubahan total current liabilities, perubahan kas, depresiasi/ amortisasi, ditambah perubahan hutang jangka panjang jatuh tempo saat ini dan perubahan hutang pajak. Semua komponen akrual dibagi total assets tahun sebelumnya.

Pengukuran akrual dapat dibedakan ke dalam dua kelompok yaitu kualitas akrual dan level akrual. Kualitas akrual merupakan estimasi dari arus kas operasi periode sebelumnya, saat ini, dan periode yang akan datang pada perubahan modal kerja. Residual dari estimasi tersebut merefleksikan akrual yang tidak berhubungan dengan realiasi cash flow; dan standar deviasi dari residual tersebut merupakan kualitas akrual pada level perusahaan, dimana standar deviasi tinggi menunjukkan kualitas akrual rendah. Selanjutnya, kualitas akrual digunakan sebagai pengukur kualitas laba (Sloan, 1996; Dechow dan Dichev, 2002; Francis, 2004).

Sedangkan level akrual didasarkan pada perubahan modal kerja yang dihitung dari perubahan account receivable ditambah perubahan inventory dan assets lain, dikurangi perubahan account payble dan perubahan taxes payble. Beaver (2002) menyatakan bahwa total (aggregate) akrual tidak dapat menangkap pertumbuhan laba jangka panjang dan secara potensial misspecified. Dengan kata lain, total (aggregate) akrual mengarah pada earnings opacity (Bhattacharya et al., 2003).

Berdasarkan konsep tersebut, maka earnings aggressiveness diukur atas dasar total (aggregate) akrual, dan diformulasikan sebagai berikut (Bhattacharya et al., 2003).

EARN.AGRSt =        (DCAt – DCLt – DCASHt + DSTDt – DEPt + DTPt)/ TAt – 1

EARN.AGRSt : Earnings Aggressiveness periode t;

ΔCAt       :   Perubahan Current Assets (Current Assett – Current Assett-1);

ΔCLt       :   Perubahan Current Liabilities (CLt – CLt-1);

ΔCasht   :   Perubahan Cash (Casht – Casht-1);

ΔSTDt     :   Perubahan Short Term Debt (STDt – STDt-1);

DEPt       :   Depresiasi dan Amortisasi periode t;

ΔTPt        :   Perubahan Tax Payble (TPt – TPt-1);

TAt-1       :   Total Assets periode t-1.

 

Dimensi kedua yang mengarah pada kekaburan laba adalah earnings smoothing. Earnings smoothing merupakan tindakan manajemen laba dengan cara melaporkan laba secara smooth sepanjang waktu. Jika laba akuntansi secara artificial smooth, maka angka laba tersebut gagal menggambarkan secara benar kinerja ekonomi, sehingga menurunkan keinformasian laporan laba, dan mengarah pada earnings opacity.

Pada literatur sebelumnya, misalnya Imhoff (1977) mencoba memisahkan perilaku artificial smoothing dari pengaruh tindakan real smoothing atau naturally smoothing. Imhoff menyatakan bahwa sales revenue merupakan hasil dari real economic perusahaan, dimana real economic adalah hasil dari aktivitas real smoothing. Keberadaan perilaku artificial smoothing diukur dengan membandingkan antara varian ordinary income dan varian penjualan. Eckel (1981) menyatakan bahwa income smoothing dibedakan dalam dua streams: naturally smooth dan intentionally smoothed by management. Pada stream pertama, dinyatakan bahwa income smoothing terjadi secara alami (naturally), dan merupakan proses yang secara melekat (inherently) menghasilkan smooth income stream; sedangkan pada stream kedua, income smoothing terjadi karena manajemen menggunakan teknik real smoothing atau artificial smoothing. Real smoothing terjadi ketika manajemen mengambil tindakan (actions) pada saat struktur ekonomi (revenue generating) menghasilkan income smoothing. Sedangkan artificial smoothing terjadi ketika manajemen memanipulasi timing akuntansi untuk menghasilkan income smoothing.

Albrecht dan Richardson (1990) mencoba mengukur laba (income) diprediksikan menjadi obyek smoothing antara lain: laba operasi (operating income, OI), laba dari operasi (income from operations, IO), laba sebelum pos luar biasa (income before extraordinary items, IE), dan laba bersih (net income, NI). Operating income (OI) didefinisikan sebagai penjualan dikurangi harga pokok penjualan dan biaya operasi selain depresiasi dan amortisasi; IO didefinisikan sebagai OI dikurangi depresiasi dan amortisasi.

Pada perkembangan selanjutnya, tindakan manajemen yang mengarah pada earnings smoothing dapat dideteksi melalui komponen-komponen akrual (Jones, 1991; Dechow et al. 1995; Bhattacharya et al., 2003), dan analisis terhadap perubahan return on net operating asset (Penman, 2003). Penman menyatakan bahwa semakin tinggi current operating income yang dimanipulasi manajemen, semakin menurunkan return on net operating asset (RNOA) periode mendatang.

Earnings smoothing dapat diukur dengan berbagai pendekatan. Misalnya, Eckel (1981) membedakan perusahaan diklasifikasikan ke dalam smoother dan non-smoother atas dasar koefisien variasi laba (income) terhadap penjualan, dihitung dengan rumus: (CVΔI / CVΔS); dimana CV, koefisien variasi; ΔI, perubahan laba (income); dan ΔS, perubahan penjualan. Perusahaan diklasifikasikan sebagai smoother apabila koefisien variasi kurang dari satu (< 1), dan sebagai non-smoother jika koefisien variasi sama dengan atau lebih dari satu (≥ 1). Model pengukuran ini juga digunakan oleh Albrecht dan Richardson (1990); dan Michelson et al. (1995). Sementara, Moses (1987) mengukur perilaku smoothing dihitung dengan membanding-kan antara prechange earnings dan expected reported earnings.

Bhattacharya et al. (2003) menentukan earnings smoothing dari korelasi antara perubahan akrual dan perubahan arus kas dibagi lagged total assets. Sesuai dengan sifat beberapa proses akuntansi akrual, korelasi diharapkan negatif. Angka korelasi yang semakin besar mengindikasikan earnings smoothing semakin besar pula, sehingga mengakibatkan earnings opacity juga semakin besar.

Francis et al. (2004) mengukur smoothness dari rasio antara variabilitas laba dan variabilitas arus kas. Pengukuran ini didasarkan pada argumentasi atribut laba diturunkan dari pandangan bahwa manajemen menggunakan informasi privatnya mengenai future income untuk “meratakan” (smooth) fluktuasi yang terjadi, sehingga laporan laba lebih representative dan lebih berguna. Model pengukuran ini juga digunakan oleh Ecker et al. (2006).

Tucker dan Zarowin (2006) mengukur income smoothing dengan korelasi negatif antara perubahan proxy akrual diskresi dan perubahan pre-discretionary income. Pengukuran ini mengasumsikan bahwa ada seri laba yang di-manage pada awal periode (pre-managed income) dan manajer menggunakan akrual diskresi untuk seri laba smooth. Korelasi negatif yang semakin besar menunjukkan income smoothing semakin besar. Laba yang semakin smooth (korelasi negatif yang semakin kecil) menunjukkan laba semakin informatif, dan memberikan sinyal positif kepada investor.

Berdasarkan literatur-literatur tersebut dapat disimpulkan bahwa sesuai dengan konsep artificial smoothing, dimana manajemen dapat melakukan manipulasi timing akuntansi untuk menghasilkan income atau earnings smoothing; maka manajemen melakukan smoothing melalui pos-pos laporan keuangan. Items atau pos-pos laporan keuangan yang sering menjadi obyek smoothing adalah laba dan akrual. Laba yang dijadikan obyek smoothing antara lain: laba operasi (operating income, OI), laba sebelum pos luar biasa (net income before extraordinary items, NIBE), dan laba bersih (net income, NI). Sedangkan akrual yang sering menjadi obyek smoothing adalah akrual modal kerja dan total akrual.

Mengacu pada konsep dan literatur-literatur tersebut, maka earnings smooting dapat dari rasio antara standar deviasi NIBE terhadap standar deviasi CFO; keduanya dibagi total assett-1 (modifikasi Albrecht dan Richardson,1990 dan Francis et al., 2004). Pengukuran ini didasarkan pada argumentasi bahwa NIBE dihasilkan selama perusahaan beroperasi pada aktivitas normal, sehingga manajemen dengan menggunakan informasi privatnya dapat melakukan “perataan” (smooth) atas fluktuasi laba yang akan terjadi.

Pengukuran earnings smoothing (smoothness) diformulasikan berikut (Francis et al., 2004): Earnings Smoothing (smoothness) = σ (NIBE/Assett-1)/ σ (CFO/Assett-1). Semakin kecil rasio tersebut menunjukkan laba semakin smooth, sehingga dipandang laba semakin sustainable. Dengan kata lain, semakin smooth berarti semakin tinggi kualitas laba. Sebaliknya, jika rasio tersebut semakin besar menunjukkan laba semakin fluktuatif, berarti semakin rendah kualitas laba, dan dipandang sebagai earnings opacity.

Dimensi earnings opacity yang ketiga yaitu loss avoidance merupakan tindakan manajemen laba dengan cara menghindari laporan laba negatif. Secara konseptual, loss avoidance didefinisikan sebagai perilaku earnings management yang memfokuskan pada laporan laba dengan cara menghindari laba negatif (rugi), menghindari penurunan laba (Burgstahler dan Dichev, 1997; Burgstahler dan Eames, 2003; Philips et al., 2003), menghindari kegagalan para analis dalam memforecast laba (Philips et al., 2003), dan menghindari biaya kegagalan kontrak hutang seperti debt covenants (Chao et al., 2004). Perilaku loss avoidance juga merupakan hubungan antara laba dan kinerja ekonomi, sehingga berdampak meningkatkan earnings opacity (Bhattacharya et al., 2003).

Berdasarkan konsep tersebut, maka loss avoidance yang dilakukan oleh manajemen dalam earnings management dapat menghasilkan dua kemungkinan, yaitu loss avoid dan earnings decrease. Ketika perusahaan hanya memperoleh laba yang relatif kecil (turun), manajemen terdorong untuk melaporkan laba dengan cara menghindari kerugian (loss avoid). Sebaliknya, jika laba perusahaan relatif besar (meningkat), manajemen terdorong untuk melaporkan laba dengan cara menurunkan laba (earnings decrease) (Burgstahler dan Eames, 2003). Semakin tinggi manajemen menghindari laba negatif (higher loss avoidance) semakin tinggi pula terjadi kekaburan laba (earnings opacity). Dengan demikian perilaku loss avoidance akan mengarah pada kekaburan laba (earnings opacity), dan earnings opacity akan berdampak pada kinerja saham yang semakin menurun.

Bhattacharya et al. (2003) mengukur loss avoidance atas dasar rasio antara earnings positif terkecil minus earnings negatif terkecil dibagi dengan jumlah keduanya. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut:

                             (SPE – SNE)

Loss avoidance = ¾¾¾¾¾¾

     å(SPE+SNE)

SPE = Small positive earnings yang didapat dari net income dibagi total assets, dimana hasilnya antara 0 sampai dengan 1; dan

SNE = Small negative earnings yang didapat dari net income negatif (loss) dibagi total assets; dimana hasilnya antara – 1 sampai dengan < 0.

Sementara Burgstahler dan Eames (2003) mencoba mendeteksi earnings management melalui analisis loss avoid dan earnings decrease. Pada analisis ini, earnings management merupakan fungsi dari premanaged earnings dan threshold level Dasar pemikirannya bahwa forecast error merupakan kombinasi dari premanaged earnings, EiPRE dan trheshold, Ti. Ketika EiPRE positif atau lebih besar daripada batas kerugian, Ti maka earnings management adalah nol, M(EiPRE, Ti.); dan ketika EiPRE negatif atau lebih kecil daripada Ti maka earnings management positif, M(EiPRE, Ti.) = – EiPRE. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara proporsi small negative earnings forecast (atau small negative changes) dengan realisasi small negative earnings. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa earnings management untuk menghindari kerugian kecil (avoid small losses) dan earnings management untuk menghindari penurunan laba (avoid earnings decreasees)tidak terbukti.

 

Referensi : Kajian Akuntansi, Pebruari 2009, Hal: 13 – 28 Vol. 1 No. 1 ISSN : 1

       Oleh: Sunarto, Fakultas Ekonomi Unisbank Semarang

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s