Kalimat Efektif dan Kalimat Tidak Efektik

Standar

Contoh Kalimat Efektif

Ki Hadjar Dewantara adalah seorang tokoh pendidikan nasional. Ia juga seorang jurnalis pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia mengenyam pendidikan di sekolah guru, tetapi kemudian ia pindah ke sekolah kedokteran STOVIA (School tot Opleiding van Indiche Artsen). Tetapi sayangnya ia juga tidak menyelesaikan pendidikan di sekolah kedoteran tersebut karena masalah biaya. Akhirnya ia terjun menjadi seorang jurnalis.

Pada tahun 1913 Ki Hadjar Dewantara bekerja di harian De Express yang dipimpin oleh Douwes Dekker. Akibat tulisan Ki Hadjar Dewantara yang berjudul Als ik een Nederlander Was, ia diasingkan ke Belanda bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Douwes Dekker. Di Belanda ia tetap berjuang dibidang politik dan tetap menuntut ilmu pendidikan.

Ki Hadjar Dewantara kembali ke Indonesia pada tahun 1919. Pada awalnya ia diangkat menjadi Sekretaris Pengurus Besar Nasional Indische Partij (NIP), kemudian diangkat menjadi ketua NIP. Mulai tahun 1921 ia terjun langsung ke dunia pendidikan. Tahun 1922 ia mendirikan sekolah dengan nama Tamansiswa. Sekolah ini menjadi perintis pendidikan nasional dengan prinsip ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani yang artinya di depan harus memberi teladan, di tengah membangun motivasi, dan dari belakang memberi semangat.

 

Contoh Kalimat Tidak Efektif      

Ki Hadjar Dewantara adalah seorang tokoh pendidikan nasional. Ia juga seorang jurnalistik pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Beliau mengenyam pendidikan di sekolah guru, tetapi kemudian ia pindah ke sekolah kedokteran STOVIA (School tot Opleiding van Indiche Artsen). Tetapi sayangnya ia juga tidak menyelesaikan pendidikan di sekolah kedoteran tersebut karena masalah biaya. Akhirnya ia terjun menjadi seorang jurnalis.

Pada tahun 1913 Ki Hadjar Dewantara bekerja di harian De Express yang dipimpin oleh Douwes Dekker. Akibat tulisannya Ki Hadjar Dewantara yang berjudul Als ik een Nederlander Was, ia diasingkan ke Belanda bersama dengan Tjipto Mangoenkoesoemo dan Douwes Dekker. Di Belanda ia tetap berjuang dibidang politik dan tetap menuntut ilmu pendidikan.

Ki Hadjar Dewantara kembali ke Indonesia pada tahun 1919. Pada awalnya ia diangkat menjadi Sekretaris Pengurus Besar Nasional Indische Partij (NIP), kemudian lalu diangkat menjadi ketua NIP. Mulai pada tahun 1921 ia terjun langsung ke dunia pendidikan. Tahun 1922 ia mendirikan sekolah dengan nama Tamansiswa. Sekolah ini menjadi perintis pendidikan nasional dengan prinsip ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani yang artinya di depan harus memberi teladan, di tengah membangun motivasi, dan dari belakang memberi semangat.

                                                                                                                                             

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s