Sampai Kapan Kita Harus Berhutang?

Standar

Selama ini APBN/APBD selalu mengalami defisit, untuk tahun 2013 saja diperkirakan APBN akan mengalami defisit sebesar Rp 172,8 triliun. Sayangnya defisit APBN/APBD ini selalu ditutup menggunakan utang. Untuk menutup defisit APBN tahun depan saja DPR telah membolehkan pemerintah menambah utang baru hingga Rp 161,4 triliun.

Dari data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, total utang pemerintah Indonesia hingga September 2012 mencapai Rp 1.975,62 triliun. Dari jumlah tersebut Rp 638,9 triliun merupakan utang luar negeri yang didapat dari beberapa negara dan juga lembaga-lembaga multilateral.

Beberapa negara dan lembaga yang paling sering memberikan pinjaman kepada Indonesia antara lain Jepang, Prancis, Jerman, Bank Dunia, ADB, dan IDB. Utang Indonesia ke Jepang hingga akhir September 2012 mencapai Rp 288,52 triliun. Pemerintah Indonesia mempunyai utang Rp 21,4 triliun ke Prancis hingga September 2012. Jumlah utang ini naik dari Rp 20,7 triliun di akhir 2011 lalu. Sedangkan utang ke Jerman mencapai Rp 20,37 triliun.

Utang Indonesia ke Bank Dunia hingga akhir September 2012 mencapai Rp 116,47 triliun. Jumlah ini naik dari akhir 2011 yang nilainya Rp 107,73 triliun. Ke ADB mencapai Rp 97,18 triliun dan kepada IDB mencapai Rp 4,33 triliun.

Kalau pemerintah selalu menutup defisit APBN/APBD dengan utang, lalu kapan utang-utang itu akan dibayar? Sampai kapan pemerintah akan mengandalkan pinjaman untuk menutupi defisit belanja negara. Lalu bagaimana cara kita membayar utang yang terus menumpuk? Bagaimana jadinya jika suatu saat utang-utang itu telah jatuh tempo sedangkan pemerintah belum bisa membayarnya?

Seperti kata pepatah “lebih besar pasak dari pada tiang”, akhirnya utang jadi jalan keluarnya. Tetapi sampai kapan pemerintah akan terus berhutang? Idealnya suatu anggaran  belanja diseimbangkan dengan pendapatan. Jika pendapatan kecil, maka pengeluaran pun harus disesuaikan, mungkin dengan cara penghematan atau pemangkasan biaya yang dinilai kurang penting. Bukankah dalam ekonomi rumah tangga juga diajarkan untuk berhemat, bahkan dianjurkan untuk bisa menabung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s