Menantikan Redenominasi Rupiah

Standar

Redenominasi adalah penggantian nilai mata uang tanpa menurunkan atau menaikkan nilai tukar riilnya. Redenominasi berbeda dengan senering atau devaluasi, jika senering atau devaluasi menyebabkan penurunan nilai tukar riilnya, sedangkan kalau redenominasi tidak akan mengubah nilai riilnya. Dalam teori ekonomi, redonominasi tidak menimbulkan dampak apapun. Sebagai contoh, kalau saat ini uang Rp 10.000 bisa untuk membeli 2 liter bensin, maka ketika dilakukan redenominasi dari Rp 10.000 menjadi Rp 10, maka harga 2 liter bensin dapat dibeli dengan Rp 10 tersebut.

Dengan adanya redenominasi, diharapkan mata uang dengan pecahan baru tersebut tidak mengubah nilai tukarnya dan membuat sebuah negara lebih bermartabat dengan menaikan gengsi mata uang rupiah terhadap mata uang asing. Seperti yang telah disampaikan Gubernur BI, Darmin Nasution, pecahan Rp 100.000 merupakan pecahan terbesar kedua di dunia. Untuk pecahan terbesar pertama adalah mata uang Vietnam yang mencetak 500.000 Dong. Namun tidak memperhitungkan negara Zimbabwe, negara tersebut pernah mencetak 100 miliar dolar Zimbabwe dalam satu lembar mata uang.

Namun, redenominasi tidak bisa langsung diterapkan begitu saja. Butuh waktu yang lama untuk melaksanakannya, banyak faktor-faktor yang perlu diperhatikan.  Hal pertama yang dibutuhkan adalah stabilitas perekonomian negara, karena redenominasi akan sangat beresiko ketika perekonomian belum mantap terutama jika inflasi belum dapat dikendalikan dengan baik oleh otoritas moneter. Selain faktor ekonomi faktor sosial, politik, dan tentu saja psikologi masyarakat menjadi pertimbangan. Diperlukan sosialisasi yang panjang agar tidak ada salah mengerti dan kekhawatiran dimasyarakat. Butuh kesiapan dan pemahaman masyarakat mengenai redenominasi, jangan sampai masyarakat salah mengerti mengenai kebijakan ini atau bahkan tertukar pemahaman dengan pemotongan nilai mata uang.

Sekretaris Jenderal Menteri Keuangan, Kiagus Ahmad Badaruddin mengatakan pihaknya telah mengirimkan surat ke badan pembinaan hukum nasional di Kementerian Hukum dan HAM. Redenominasi sedang diusulkan supaya masuk prolegnas 2013. “Redenominasi itu prosesnya akan dibicarakan dulu dengan pemerintah dan presiden dan harus melalui Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) baru kita sosialisasikan”, ujar Gubernur BI, Darmin Nasution.

Ada beberapa alternatif redenominasi, yaitu menghilangkan 1 angka nol, 2 angka nol, 3 angka nol, dan 4 angka nol. Tetapi alternatife yang lebih memungkinkan adalah menghilangkan 3 angka nol atau 2 angka nol agar tidak terjadi kerumitan di masyarakat mengenai pecahan mata uang.

Strategi pemerintah dalam menjalankan redenominasi mata uang rupiah dimulai dari pecahan terbesar Rp 100.000 menjadi Rp 1.000. Untuk menjalankan redenominasi (pengurangan angka nol) dalam mata uang rupiah, tiga angka nol disamarkan dalam lembaran mata uang yang diedarkan. Jadi, marilah kita bersiap-siap menantikan kebijakan ini mulai dijalankan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s