Mampukah SRI jadi Solusi Impor Beras Indonesia?

Standar

Pada bulan September yang lalu pemerintah Indonesia menandatangani kesepakatan untuk membeli beras dari Kamboja dengan volume 100.000 ton per tahun untuk jangka waktu lima tahun ke depan. Kesepakatan itu ditandatangani oleh Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan dan Menteri Perdagangan Kamboja Cham Prasidh pada sela-sela Pertemuan ke-44 Menteri-Menteri Ekonomi ASEAN di Siem Reap, Kamboja. Mengapa hal ini bisa terjadi, bukankah Indonesia adalah negara swasembada beras? Menurut Menteri Perdagangan, produk pangan menghadapi ketidakpastian pasokan karena faktor cuaca dan perubahan iklim. Sementara produksi beras nasional antara 35 juta sampai 40 juta ton per tahun sehingga untuk stabilitas harga dan cadangan terpaksa harus impor untuk memenuhi kekurangannya.

Untuk mengatasi hal ini, menurut Beliau bisa ditempuh dengan cara mengurangi konsumsi beras dengan diversikasi pangan. Data Kementerian Perdagangan menyebutkan konsumsi beras Indonesia adalah 140 kg per orang per tahun. Itu jaiuh di atas angka-angka konsumsi beras di Vietnam, Thailand, dan Malaysia yang hanya berkisar 65-70 kg. Jika Indonesia bisa menurunkan konsumsi beras dari 140 kg ke 100 kg saja maka sudah bisa menghemat 40 kg per tahun. Jika angka itu dikalikan 250 juta penduduk, maka penghematannya mencapai 10 juta ton. Jika hal itu terjadi, Indonesia malah bisa ekspor 7 juta ton.

Mungkin selain dengan cara mengurangi konsumsi beras cara lain yang dapat ditempuh adalah meningkatkan hasil produksi beras Indonesia. Untuk meningkatkan hasil produksi beras, salah satunya langkah yang bisa ditempuh adalah menanam padi menggunakan metode SRI.
SRI (System of Rice Intensification) adalah teknik budidaya padi yang mampu meningkatkan produktifitas padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan unsur hara. Pola tanam ini juga menerapkan prinsip bertanam kembali ke alam. Maksudnya adalah petani tidak lagi menggunakan pupuk kimia, tapi memanfaatkan jerami, limbah gergaji, sekam, pohon pisang, pupuk kandang yang diolah untuk pupuk tanahnya.

Pada metode konvensional, dibutuhkan benih sebanyak 30 kg/ha, kini dengan menggunakan pola SRI cukup dengan benih sebanyak 7 kg/ha. Kemudian, benih tersebut ditanam dengan biji tunggal (satu biji benih) saat usia benih tujuh hari dengan jarak 30 cm x 30 cm. Benih jangan diberi air terlalu banyak, penyiangan dilakukan empat kali, pemberian pupuk alami hingga enam kali, pengendalian hama terpadu, dan masa panen saat usia 100 hari atau lebih cepat 15 hari dengan metode konvensional.

Menurut Kepala Dinas Pertanian Ciamis, Ir. Lukman, saat ini sudah 73 ha lahan yang memakai pola SRI. Rata-rata setiap panen mencapai 10 ton/ha dengan metode konservasi hasil panen padi rata-rata hanya 4,5 ton/ha. Kenaikan yang cukup signifikan pada hasil produksi padi dengan metode SRI hingga 100%. Ini artinya, ada peluang besar dalam meningkatkan produksi pertanian padi dan juga ramah lingkungan.

Dalam budidaya padi metode SRI berikut adalah beberapa tahapan-tahapannya:
1. Pupuk Organik sebanyak 4-8 ton/ha (tergantung kandungan organik sawah, bila kadar organik tanah sudah mencapai 2 % maka dengan pemupukan 1 ton/ha sudah mencukupi untuk menjaga keseimbangan kesuburan). Pupuk organik ditaburkan merata ke permukaan tanah. Setelah itu sawah dibajak sesuai dengan kedalaman akar padi sekitar 30 cm.
2. Setelah sawah dibajak selajutnya direndam dengan air selama seminggu untuk mengkondisikan
pupuk organik jadi lebih matang dan menyebar di dalam tanah.
3. Setelah direndam 1 minggu sawah digaru agar kontur tanah merata untuk persiapan tanam. Pada saat bersamaan bibit padi mulai ditebar setelah diperam selama 4 hari sampai keluar akar.
4. Setelah digaru sawah digenangi air lagi sambil menunggu bibit umur 7-9 hari untuk siap tanam, 2 hari sebelum tanam air dikeluarkan dari sawah sampai kondisi tanah masih tetap basah tapi tidak tergenang air.
5. Sawah digarit dengan garis horizontal vertikal tegak lurus berjarak sama 25 cm x 25 cm.
6. Padi ditanam satu bibit perlubang.
7. Setalah dilakukan PENG-GARITAN padi ditanam tepat pada titik temu antara garis vertikal dan horisontal. Padi ditanam satu per satu atau dua dua sebagai cadangan untuk nyulam.
8. Setelah padi ditanam tanah dikondisikan basah tapi tidak tergenang agar transfer oksigen ke tanah terus berjalan dan aman dari gangguan keong emas. Pada awalnya padi nampak jarang dan kecil-kecil.
9. Pada Umur 15-20 hari dialakukan penyiangan pertama untuk membersihkan rumput dengan cara mekanis pakai landak diikuti tenaga manusia yang mencabut rumpuk yang berdekatan dengan batang padi. Bila setelah penyiangan pertumbuhan padi tampak tidak merata maka dilakukan penambahan pupuk majemuk agar pertumbuhan vegetatif padi optimalberanak banyak dan berbatang kuat.
10. Padi umur 30-35 hari dilakukan penyiangan kedua, bila padi tumbuh segar, hijiau dan batangnya
kokoh maka setelah penyiangan tidak perlu dilakukan pemupukan tambahan.
11. Padi Umur 30 Hari Padi siap panen.
12. Setelah umur 40 hari padi sudah tampak tumbuh lebat dan pada umur 50 hari padi mulai berbunga. Padi dengan Pola Tanam SRI anaknya banyak bulirnya lebat untuk menjamin agar bijinya penuh berisi maka perlu pupuk daun. Agar produk SRI masih dalam Koridor Beras Organik maka disarankan menggunakan Biopestisida atau NanoGren agar produknya standard, merata dan tidak tercemar pestisida. Umur 95 hari padi siap panen.

Sumber : http://www.antaranews.com/berita/329890/indonesia-impor-beras-kamboja-100000-tontahun
http://cakham.wordpress.com/2010/01/04/cara-tanam-padi-metode-sri/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s