Monthly Archives: Oktober 2012

Manfaatkan Potensi Sampah

Standar

Manusia hidup tak akan lepas dari sampah, setiap hari, setiap manusia pasti menghasilkan sampah. Sampah akan terus bertambah setiap saat. Bagaimana jadinya jika dunia ini telah penuh oleh sampah? Apakah kita bisa hidup berdampingan dengan tumpukan sampah? Hal ini akan menjadi ancaman serius untuk keberlangsungan hidup manusia.

Kementerian Lingkungan hidup mencatat rata-rata penduduk Indonesia menghasilkan sekitar 2,5 liter sampah per hari atau 625 juta liter dari jumlah total penduduk. Kondisi ini akan terus bertambah sesuai dengan kondisi lingkungannya. Lalu mau dikemanakan sampah-sampah tersebut?

Kementerian Pekerjaan Umum akan membangun 70 tempat pembuangan akhir tahun depan, terkait dengan target rencana strategis 2010-2014 membangun dan merevitalisasi 210 TPA di seluruh Indonesia. Namun, pembangunan TPA ini bukanlah suatu solusi yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah sampah untuk jangka panjang. Kalau sampah hanya ditumpuk terus menerus, maka semakin lama TPA yang tersedia akan dipenuhi oleh gunungan sampah, dan pastinya kebutuhan akan TPA baru akan terus meningkat.

Alangkah baiknya mulai sekarang digalakan gerakan untuk pemanfaatan potensi sampah untuk hidup yang lebih baik. Hal ini harus dimulai sedini mungkin, mulai dari diri sendiri. Dibutuhkan kesadaran pribadi untuk mengurangi dampak negatif penumpukan sampah. Marilah dimulai dari hal terkecil seperti pengurangan volume sampah, pemanfaatan sampah menjadi barang yang masih bisa digunakan, pengolahan sampah lebih lanjut sehingga meningkatkan nilai ekonomi sampah.

Peran pemerintah juga diperlukan dalam pemanfaatan potensi sampah seperti yang telah diterapkan di TPA Puuwatu. TPA ini telah sukses mengolah sampah sehingga menghasilkan ekstraksi energi nonfosil berbentuk gas bio ramah lingkungan, yang dapat mereduksi potensi emisi gas rumah kaca dari sampah. Selain itu, air lindi yang dihasilkan dari proses lahan urug juga dapat diresirkulasikan kembali ke dalam lahan urug, dan dapat dimanfaatkan sebagai kompos cair.

Pemerintah berencana akan mendesign TPA yang baru agar dapat menghasilkan tenaga listrik. Meskipun tidak besar, kapasitasnya diharapkan dapat membantu proses pengolahan sampah itu sendiri. Tentu saja hal ini akan sangat membantu dalam menangani masalah sampah yang jika tidak ditangani akan berdampak buruk dalam jangka panjang.

 

Iklan

Out Line Artikel

Standar

Arti Kesetiaan

 
 

Ini cerita nyata, beliau adalah Bp. Eko Pratomo Suyatno, Direktur Fortis Asset Management yg sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dlm memajukan industri Reksadana di Indonesia. Apa yg diutarakan beliau adalah sangat benar sekali. Silakan baca dan dihayati.

————————————————————————————————–

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua.Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak.

Disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak keempat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga, seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja, dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum.

Untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas waktu maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang, bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari, ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah, sudah tinggal dengan keluarga masing-masing dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yang merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yg sulung berkata “Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu, tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak, bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”.

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-kata: “sudah yang keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak. Kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”.

Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak-anaknya: “Anak-anakku… Jikalau perkawinan & hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah.. tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian. Sejenak kerongkongannya tersekat, kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat dihargai dengan apapun.”

“Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain? Bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.”

Sejenak meledaklah tangis anak-anak pak suyatno. Merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno. Dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno, kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa.

Disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yang hadir di studio, kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru. Disitulah Pak Suyatno bercerita..” Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) itu adalah kesia-siaan”.

“Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu-lucu. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama. Dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…”

Sumber : http://iphincow.wordpress.com/2012/07/25/arti-kesetiaan/#more-492

Out line artikel :

Paragraf 1 : latar belakang perkerjaan Pak Suyatno

Paragraf 2 : latar belakang keluarga Pak Suyatno

Paragraf 3 : awal mula kelumpuhan istrinya

Paragraf 4 : pengabdian Pak Suyatno kepada istrinya

Paragraf 5 : kegiatan sehari-hari Pak Suyatno

Paragraf 6 : ketegaran Pak Suyatno

Paragraf 7 : keempat anaknya berkumpul

Paragraf 8 : permohonan anak-anaknya untuk merawat istrinya

Paragraf 9 : izin menikah lagi dari sang anak

Paragraf 10 : penolakan dari Pak Suyatno

Paragraf 11 : alasan penolakan dari Pak Suyatno

Paragraf 12 : suasana haru keluarga Pak Suyatno

Paragraf 13 : Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta

Paragraf 14 : suasana di stasiun TV

Paragraf 15 : alsan Pak Suyatno tidak meninggalkan istrinya

Krisis Listrik Tanah Air

Standar

Listrik sampai saat ini belum bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia, padahal setiap pulau memiliki potensi masing-masing yang dapat dijadikan sebagai sumber energi listrik. Namun sayangnya kekayaan energi tersebut belum dikelola dengan baik.  Rasio elektrifikasi Indonesia saat ini masih sekitar 73,7%. Bahkan beberapa provinsi ada yang hanya mencapai 30%.

Banyak sekali pulau dengan kekayaan alam yang sangat besar justru harus mengalami krisis energi listrik. Contohnya Kalimantan Timur, daerah ini krisis listriknya terparah, padahal Kalimantan Timur kaya akan gas alam yang seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai sumber tenaga listrik. Namun sampai saat ini, kekurangan listrik di daerah itu belum bisa terpenuhi karena PLTG Senipah masih dalam proses pembangunan.

Begitu juga dengan daerah Sulawesi Selatan, kekurangan listrik di daerah ini masih belum bisa terpenuhi. Hanya beberapa kota besar saja yang sudah terjamah oleh jaringan listrik. Untuk mengatasinya, saat ini sedang berlangsung pembangunan PLTA di Poso yang diharapkan tahun depan sudah bisa dinikmati listriknya oleh masyarakat Palu.

Masyarakat wilayah Indonesia bagian timur pun belum bisa menikmati listrik secara luas. Menurut Direktur Operasi Indonesia Timur PLN Vickner Sinaga, saat ini masih ada 17 ibukota kabupaten belum ada listriknya. Dan direncanakan akan ada program 1.000 pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di 1.000 pulau.

Kalau suatu daerah mengalami krisis listrik, maka hal ini secara tidak langsung ikut memperlambat kemajuan daerah tersebut, listrik merupakan salah satu urat nadi pembangunan. Hampir semua orang membutuhkan listrik, listrik saat ini hampir sama pentingnya dengan kebutuhan pokok yang lain. Dengan adanya listrik semua kegiatan bisa dilakukan dengan lebih efektif dan efisien. Bayangkan saja jika  Jakarta tidak ada listrik, maka berapa banyak orang yang akan protes, berapa banyak kerugian yang akan diderita.

Ketidak tersediaan listrik ini merupakan kerugian besar bagi PLN, inefisiensi ini menyebabkan kerugian milyaran bahkan mencapai triliunan rupiah. Dahlan Iskan (mantan Direktur Utama PLN) mengungkapkan bahwa seharusnya PLN bisa rugi hingga Rp 100 triliun bukan hanya Rp 37 triliun.

Semoga saja masalah krisis energi listrik bisa segera teratasi, sehingga seluruh rakyat Indonesia bisa menikmati listrik. Dan pemerataan pembangunan yang selama ini diimpikan bisa segera terwujud.

 

 

Kendala Pembangunan di luar Pulau Jawa

Standar

Pembangunan  Indonesia selama ini hanya terpusat di pulau Jawa, sedangkan pulau-pulau yang lain jauh tertinggal. Pulau Jawa yang sudah padat akan penduduk, tiap tahun mengalami kenaikan. Bisa dikatakan bahwa urat nadi pembangunan di Indonesia ada di pulau Jawa. Hal ini memang memprihatinkan, pulau Jawa tidak pernah berhenti membangun sedangkan pulau-pulau yang lain tidak ada yang mengelolanya.

Salah satu yang menjadi kendalanya adalah minimnya infrastruktur, sehingga mempersulit mobilitas arus barang dan jasa, penduduk, modal dan informasi antarwilayah. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) Hendra Lesmana, pemerintah mendorong pengembangan kawasan industri di luar Pulau Jawa, namun terkendala infrastruktur yang minim, mulai dari pelabuhan, jalan, hingga birokrasi. Selain infrastruktur yang minim, ketersediaan jaringan listrik yang belum bisa dinikmati oleh seluruh wilayah Indonesia pun menjadi penghambat pembangunan.

Pembebasan lahan juga menjadi kendala dalam pembangunan, persoalannya antara lain berkaitan dengan masyarakat, status lahan, dan tata ruang. Semakin besar lahan yang dibutuhkan, maka semakin lama juga proses yang dibutuhkan untuk dapat mengelola lahan tersebut. Harus ada kesepakatan antara pemilik lahan, masyarakat sekitar, lembaga masyarakat yang ada, dengan para investor. Berdasarkan data dari Bappenas, terdapat 13 proyek subtransportasi yang akan dilaksanakan tahun ini. Namun, ternyata lima diantaranya dipastikan tertunda karena masalah pembebasan lahan.

Kualitas sumber daya manusia turut mempengaruhi maju tidaknya pembangunan suatu daerah. Melalui pendidikan seseorang akan mampu meningkatkan kesejahteraannya. Dengan meningkatnya kualitas manusia, kesejahteraan masyarakat juga akan meningkat dan membaik secara merata di seluruh wilayah.

Alat Transportasi Apa yang Cocok untuk Ibu Kota?

Standar

Baru-baru ini terdengar kabar bahwa Gubernur DKI Jakarta yang baru akan melanjutkan rencana pembangunan MRT yang sejak tahun 2008 terbengkalai. Jika pembangunan proyek MRT akan tetap dilaksanakan, semoga saja kali ini tidak akan menjadi proyek yang hanya membuang-buang anggaran dana pemerintah seperti tahun lalu.

Memang suatu pilihan yang sulit untuk memilih melanjutkan proyek ini atau tidak. Karena proyek ini akan menghabiskan dana yang tidak sedikit,yaitu sekitar Rp1,5 triliun. Di lain pihak masyarakat ibu kota menginginkan adanya suatu moda transportasi massal yang nyaman, konsisten, dan dapat diandalkan. Seperti yang diungkapkan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Armida S Alisjahbana, bahwa Jakarta sebagai ibukota negara Indonesia mutlak memiliki sistem transportasi massal untuk mendukung pergerakan manusia secara cepat dan efektif. Dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang semakin baik, serta pembangunan yang makin meningkat, sudah saatnya dan mutlak Jakarta memiliki sistem transportasi massal yang memiliki daya dukung dan daya gerak terhadap pertumbuhan ekonomi dan sosial, kata Armida. 

Jika ibu kota telah memiliki sistem tarnsportasi massal yang bisa diandalkan, bukan hanya akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan sosial tetapi juga bisa dijadikan salah satu solusi untuk menghadapi masalah kemacetan yang sampai saat ini masih belum bisa terpecahkan. Orang akan lebih memilih menggunakan transportasi umum dari pada menggunakan kendaraan pribadi jika transportasi tersebut dikelola dengan baik. Jika hal ini terjadi, maka jumlah kendaraan yang lalu lalang di ibu kota akan berkurang sehingga kemacetan bisa dihindari, dan pemerintah pun bisa menghemat dana APBNyang sebagian besar digunakan untuk subsidi BBM. Sedangkan selama ini subsidi BBM sebagian besar dinikmati oleh kendaraan pribadi.

Ini merupakan tugas yang berat bagi Gubernur DKI Jakarta yang baru untuk menentukan nasib ibu kota lima tahun ke depan. Semoga saja apapun langkah yang diambil merupakan langkah yang terbaik bagi masyarakat ibu kota yang bukan hanya menguntungkan bagi segelintir orang.

 

Mampukah SRI jadi Solusi Impor Beras Indonesia?

Standar

Pada bulan September yang lalu pemerintah Indonesia menandatangani kesepakatan untuk membeli beras dari Kamboja dengan volume 100.000 ton per tahun untuk jangka waktu lima tahun ke depan. Kesepakatan itu ditandatangani oleh Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan dan Menteri Perdagangan Kamboja Cham Prasidh pada sela-sela Pertemuan ke-44 Menteri-Menteri Ekonomi ASEAN di Siem Reap, Kamboja. Mengapa hal ini bisa terjadi, bukankah Indonesia adalah negara swasembada beras? Menurut Menteri Perdagangan, produk pangan menghadapi ketidakpastian pasokan karena faktor cuaca dan perubahan iklim. Sementara produksi beras nasional antara 35 juta sampai 40 juta ton per tahun sehingga untuk stabilitas harga dan cadangan terpaksa harus impor untuk memenuhi kekurangannya.

Untuk mengatasi hal ini, menurut Beliau bisa ditempuh dengan cara mengurangi konsumsi beras dengan diversikasi pangan. Data Kementerian Perdagangan menyebutkan konsumsi beras Indonesia adalah 140 kg per orang per tahun. Itu jaiuh di atas angka-angka konsumsi beras di Vietnam, Thailand, dan Malaysia yang hanya berkisar 65-70 kg. Jika Indonesia bisa menurunkan konsumsi beras dari 140 kg ke 100 kg saja maka sudah bisa menghemat 40 kg per tahun. Jika angka itu dikalikan 250 juta penduduk, maka penghematannya mencapai 10 juta ton. Jika hal itu terjadi, Indonesia malah bisa ekspor 7 juta ton.

Mungkin selain dengan cara mengurangi konsumsi beras cara lain yang dapat ditempuh adalah meningkatkan hasil produksi beras Indonesia. Untuk meningkatkan hasil produksi beras, salah satunya langkah yang bisa ditempuh adalah menanam padi menggunakan metode SRI.
SRI (System of Rice Intensification) adalah teknik budidaya padi yang mampu meningkatkan produktifitas padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan unsur hara. Pola tanam ini juga menerapkan prinsip bertanam kembali ke alam. Maksudnya adalah petani tidak lagi menggunakan pupuk kimia, tapi memanfaatkan jerami, limbah gergaji, sekam, pohon pisang, pupuk kandang yang diolah untuk pupuk tanahnya.

Pada metode konvensional, dibutuhkan benih sebanyak 30 kg/ha, kini dengan menggunakan pola SRI cukup dengan benih sebanyak 7 kg/ha. Kemudian, benih tersebut ditanam dengan biji tunggal (satu biji benih) saat usia benih tujuh hari dengan jarak 30 cm x 30 cm. Benih jangan diberi air terlalu banyak, penyiangan dilakukan empat kali, pemberian pupuk alami hingga enam kali, pengendalian hama terpadu, dan masa panen saat usia 100 hari atau lebih cepat 15 hari dengan metode konvensional.

Menurut Kepala Dinas Pertanian Ciamis, Ir. Lukman, saat ini sudah 73 ha lahan yang memakai pola SRI. Rata-rata setiap panen mencapai 10 ton/ha dengan metode konservasi hasil panen padi rata-rata hanya 4,5 ton/ha. Kenaikan yang cukup signifikan pada hasil produksi padi dengan metode SRI hingga 100%. Ini artinya, ada peluang besar dalam meningkatkan produksi pertanian padi dan juga ramah lingkungan.

Dalam budidaya padi metode SRI berikut adalah beberapa tahapan-tahapannya:
1. Pupuk Organik sebanyak 4-8 ton/ha (tergantung kandungan organik sawah, bila kadar organik tanah sudah mencapai 2 % maka dengan pemupukan 1 ton/ha sudah mencukupi untuk menjaga keseimbangan kesuburan). Pupuk organik ditaburkan merata ke permukaan tanah. Setelah itu sawah dibajak sesuai dengan kedalaman akar padi sekitar 30 cm.
2. Setelah sawah dibajak selajutnya direndam dengan air selama seminggu untuk mengkondisikan
pupuk organik jadi lebih matang dan menyebar di dalam tanah.
3. Setelah direndam 1 minggu sawah digaru agar kontur tanah merata untuk persiapan tanam. Pada saat bersamaan bibit padi mulai ditebar setelah diperam selama 4 hari sampai keluar akar.
4. Setelah digaru sawah digenangi air lagi sambil menunggu bibit umur 7-9 hari untuk siap tanam, 2 hari sebelum tanam air dikeluarkan dari sawah sampai kondisi tanah masih tetap basah tapi tidak tergenang air.
5. Sawah digarit dengan garis horizontal vertikal tegak lurus berjarak sama 25 cm x 25 cm.
6. Padi ditanam satu bibit perlubang.
7. Setalah dilakukan PENG-GARITAN padi ditanam tepat pada titik temu antara garis vertikal dan horisontal. Padi ditanam satu per satu atau dua dua sebagai cadangan untuk nyulam.
8. Setelah padi ditanam tanah dikondisikan basah tapi tidak tergenang agar transfer oksigen ke tanah terus berjalan dan aman dari gangguan keong emas. Pada awalnya padi nampak jarang dan kecil-kecil.
9. Pada Umur 15-20 hari dialakukan penyiangan pertama untuk membersihkan rumput dengan cara mekanis pakai landak diikuti tenaga manusia yang mencabut rumpuk yang berdekatan dengan batang padi. Bila setelah penyiangan pertumbuhan padi tampak tidak merata maka dilakukan penambahan pupuk majemuk agar pertumbuhan vegetatif padi optimalberanak banyak dan berbatang kuat.
10. Padi umur 30-35 hari dilakukan penyiangan kedua, bila padi tumbuh segar, hijiau dan batangnya
kokoh maka setelah penyiangan tidak perlu dilakukan pemupukan tambahan.
11. Padi Umur 30 Hari Padi siap panen.
12. Setelah umur 40 hari padi sudah tampak tumbuh lebat dan pada umur 50 hari padi mulai berbunga. Padi dengan Pola Tanam SRI anaknya banyak bulirnya lebat untuk menjamin agar bijinya penuh berisi maka perlu pupuk daun. Agar produk SRI masih dalam Koridor Beras Organik maka disarankan menggunakan Biopestisida atau NanoGren agar produknya standard, merata dan tidak tercemar pestisida. Umur 95 hari padi siap panen.

Sumber : http://www.antaranews.com/berita/329890/indonesia-impor-beras-kamboja-100000-tontahun
http://cakham.wordpress.com/2010/01/04/cara-tanam-padi-metode-sri/