Wonosobo ASRI

Standar

Kota Wonosobo atau Kabupaten Wonosobo merupakan kota yang terletak di propinsi Jawa Tengah. Kabupaten Wonosobo merupakan salah satu dari 35 Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah, terletak antara 7°.11′.20” sampai 7°.36′.24” garis lintang selatan (LS), serta 109°.44′.08” sampai 110°.04′.32” garis bujur timur (BT). Kabupaten Wonosobo berjarak 120 Km dari Ibu Kota Jawa Tengah (Semarang) dan 520 Km dari Ibu Kota Negara (Jakarta), berada pada rentang 250 dpl – 2.250 dpl dengan dominasi pada rentang 500 dpl – 1.000 dpl sebesar 50% (persen) dari seluruh areal, kondisi ini menjadikan Kabupaten Wonosobo menjadi dataran tinggi dengan posisi spasial berada di tengah-tengah Pulau Jawa dan berada di antara jalur pantai utara dan jalur pantai Selatan.

Kabupaten Wonosobo memiliki luas 98.468 hektar (984,68 km2) atau 3,03% (Persen) dari luas Jawa Tengah, dengan komposisi tata guna lahan atas tanah sawah mencakup 17.174,00 ha (78,44%), tanah kering seluas 64.550,00 ha (65,55%), hutan negara 18.888,12 ha (17,10%) perkebunan negara/swasta seluas 1.994,86 ha (2,025%) dan lainnya seluas 2,979,63 ha (3,025%). Secara administratif terbagi dalam 15 Kecamatan, 236 Desa dan 29 Kelurahan.

Kabupaten Wonosobo merupakan daerah pegunungan dengan ketinggian antara 250 m hingga 2.250 m diatas permukaan laut termasuk dalam jenis pegunungan muda. Kabupaten Wonosobo beriklim tropis dengan suhu udara rata-rata antara 24 – 30 ºC disiang hari dan turun menjadi 20ºC pada malam hari. Pada bulan Juli sampai Agustus turun menjadi 12 – 15 ºC pada malam hari dan 15 – 20 ºC di siang hari. Rata-rata hari hujan adalah 196 hari dengan curah hujan rata-rata 3.400 mm, tertinggi di Kecamatan Garung (4.802 mm) dan terendah di Kecamatan Watumalang (1.554 mm).

Pertanian adalah mata pencaharian utama masyarakat Wonosobo, sektor ini pada tahun terakhir menyumbang 47,42% (persen) dari PDRB. Sektor pertanian ini memiliki komoditas antara lain Padi, Teh, Tembakau, kopi dan berbagai jenis sayuran serta tanaman hortikultura lainnya. Wonosobo memiliki suhu udara antara 14,3 – 26,5 oC sangat cocok untuk pengembangan budidaya jamur, carica pepaya, asparagus dan beberapa jenis kayu sebagai komoditi ekspor non migas serta beberapa jenis tanaman khas Wonosobo seperti Purwaceng, Gondorukem dan Kayu putih.

Sektor Pertambangan dan Penggalian merupakan lapangan usaha yang terkecil yakni sebesar 0,60% (persen). Kondisi ini disebabkan karena sektor tersebut belum tergarap secara maksimal, oleh karena itu usaha-usaha pertambangan rakyat yang telah ada perlu dikembangkan agar dapat memberikan nilai ekonomi tinggi namun tetap menjaga pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Lapangan usaha yang setiap tahun mengalami kenaikan adalah Sektor Bank, Persewaan dan Jasa Perusahaan dengan kontribusi terakhir sebesar 6,46% (persen). Oleh karena itu kebijakan pengembangan industri khususnya Perbankan (BPR) dan sebagainya perlu terus ditingkatkan, sehingga ketergantungan pada sektor pertanian akan dapat dikurangai secara bertahap.

Tidak kalah penting potensi wisata Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateau) dengan panas buminya yang telah dimanfaatkan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Kawah dan panorama yang indah lainnya menambah deretan keindahan bumi Wonosobo. Selain itu terdapat juga candi-candi peninggalan Kerajaan Mataram Hindu dan beberapa situs sejarah lainnya. Nama Dieng berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “di” yang berarti tempat, dan “hyang” yang berarti dewa pencipta. Secara keseluruhan Dieng dapat diartikan sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Sementara para penduduk sekitar sering mengartikan bahwa Dieng berasal dari kata “edi” yang berarti cantik dalam bahasa Jawa, dan “aeng” yang berarti aneh. Dengan kata lain Dieng adalah sebuah tempat yang cantik namun memiliki banyak keanehan. Sesungguhnya Dieng adalah wilayah vulkanik aktif dan dapat dikatakan sebagai gunung api raksasa. Datarannya terbentuk dari kawah gunung berapi yang telah mati. Bentuk kawah ini terlihat jelas dari dataran yang dikelilingi oleh gugusan pegunungan disekitarnya. Namun meskipun gunung api ini telah berabad-abad mati, beberapa kawah vulkanik masih aktif hingga sekarang. Di antaranya adalah Kawah Sikidang, yang selalu berpindah-pindah tempat dan meloncat-loncat seperti “kidang” atau kijang.

Selain kawah dan candi, di dataran tinggi Dieng juga terdapat Telaga Warna. Keunikan proses terbentuknya menghasilkan bentang alam yang eksotik dan tidak ada duanya. Telaga Warna yang memantulkan warna hijau, biru dan ungu serta pesona keindahan matahari terbit dari puncak Gunung Sikunir adalah tempat-tempat yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Sebagai tanah yang dipercaya sebagai tempat bersemayamnya para dewa, aura mistis dan berbagai mitos masih dipercaya oleh warga asli Dieng. Salah satunya adalah fenomena anak gimbal. Entah mengapa banyak anak di wilayah ini tiba-tiba berubah menjadi berambut gimbal. Mereka yang awalnya lahir dalam keadaan normal seperti anak kebanyakan, mendadak terserang demam tinggi dan tumbuh rambut gimbal di kepalanya. Sebagian besar warga percaya bahwa anak gimbal adalah keturunan pepunden atau leluhur pendiri Dieng. Mereka ini kemudian harus dipotong rambut gimbalnya melalui sebuah prosesi ruwatan, setelah permintaan si anak dipenuhi oleh orangtuanya. Bila orangtua gagal memenuhinya, maka rambut gimbal akan tumbuh lagi meski telah dipotong berkali-kali.

Selain Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateu) terdapat juga objek wisata yang tak kalah bagusnya. Di kecamatan Garung terdapat objek wisata telaga menjer. Telaga Menjer adalah telaga yang terbentuk akibat dari letusan vulkanik di kaki Gunung Pakuwaja. Dulunya air di telaga itu hanyalah dari beberapa mata air kecil di sekitar telaga dan juga mengandalkan curah hujan yang cukup tinggi didaerah ini. Pada zaman penjajahan Belanda dengan akan dibangunnya PLTA Garung dibawah telaga tersebut, maka dibendunglah sebagian sungai Serayu yang berada di sebelah utara desa Jengkol. Kemudian dialirkan melalui terowongan bawah tanah sepanjang ± 7 km dibawah perkebunan teh PT Tambi yang berada di sebagian wilayah Desa Kreo dan Tlogo. Untuk mengalirkan air dari telaga ini menuju PLTA, dibendunglah sebagian kecil dari telaga dan di bawahnya dipasang pipa dengan diameter mencapai ± 3m menuju ke PLTA yang berjarak sekitar 2 km.

Kota Wonosobo merupakan kota yang kaya akan keindahan alamnya, di kota tersebut terdapat pula objek wisata perkebunan teh yang bernama Agrowisat Tambi. Agrowisata Tambi terletak di Desa Tambi, Kecamatan Kejajar, Wonosobo. Agrowisata Tambi merupakan usaha pemanfaatan areal perkebunan teh sebagai obyek wisata. Obyek wisata perkebunan teh Tambi terhampar luas dilereng Gunung Sindoro, yang terletak pada ketinggian 1200-2000 meter diatas permukaan laut. suhu rata-rata mencapai 15ºC – 24ºC.
Agrowisata Tambi termasuk tujuan wisata serbaguna, selain sebagai sarana rekreasi dan peristirahatan juga sebagai sarana olahraga dan camping/hiking, Agrowisata Tambi menawarkan pemandangan yang sangat indah, dengan hamparan perkebunan teh, juga sekeliling area berupa daerah pegunungan yang sangat menawan. Wisatawan dapat memanfaatkan, gardu yang berada di daerah perkebunan teh untuk tempat berteduh yang nyaman, tak hanya itu wisatawan juga dapat belajar bagaimana proses pembuatan teh, mulai dari pemetikan dan pengolahan dengan mengamati secara langsung.

Sesuai motto yang dimiliki kota ini, yaitu Wonosobo ASRI (Aman, Sehat, Rapi, Indah) kota ini sering sekali mendapatkan piala adipura dari pemerintah. Semoga saja ke ASRI an kota ini akan tetap terjaga untuk menciptakan kota Wonosobo yang benar-benar asri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s