Kota Jasa dan Perdagangan Kalimantan Timur

Standar

Samarinda merupakan ibu kota provinsi Kalimantan Timur, Samarinda berasal dari kata “sama rendah” yang lama-kelamaan ejaannya berubah menjadi Samarinda. Dahulunya Samarinda adalah tempat perkampungan dari suku Bugis, Kutai, Banjar dan suku lainnya. Hal ini dimaksudkan agar semua penduduk, baik asli maupun pendatang berderajat sama. Istilah atau nama ini juga memang sesuai dengan keadaan lahan atau lokasi yang terdiri atas dataran rendah dan daerah persawahan yang subur.

Luas wilayahnya 718 km², terletak di wilayah khatulistiwa dengan koordinat diantara 0°21’81″–1°09’16” LS dan 116°15’16″–117°24’16” BT. Seluruh wilayah kota ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Kartanegara dan dibelah oleh sungai Mahakam. Kota Samarinda beriklim tropis basah, hujan sepanjang tahun. Temperatur udara antara 20 °C – 34 °C dengan curah hujan rata-rata per tahun 1980 mm, sedangkan kelembaban udara rata-rata 85%.

Pesut Mahakam adalah maskot kota Samarinda. Namun saat ini Pesut Mahakam tidak terlihat lagi di sepanjang sungai Mahakam kota Samarinda. Pesut Mahakam terdesak oleh kemajuan kota dan pindah ke hulu sungai. Populasi Pesut Mahakam semakin menurun dari tahun ke tahun. Bahkan menurut sebuah penelitian, Pesut Mahakam sekarang tinggal 50 ekor. Jika tidak dilakukan antisipasi dan pelestarian, maka dalam waktu beberapa tahun saja Pesut Mahakam akan punah, menyusul pesut dari Sungai Irrawaddy dan Sungai Mekong yang sudah terlebih dahulu punah dan Pesut Mahakam adalah pesut air tawar terakhir yang hidup di planet bumi.

Sebagai kota yang dibelah Sungai Mahakam, Samarinda memiliki transportasi air tradisional sejak dahulu, yakni Tambangan dan Ketinting. Tambangan biasa digunakan sebagai alat transportasi menyeberang sungai dari daerah Samarinda Seberang ke kawasan Pasar Pagi. Ketinting menjadi moda transportasi sungai utama untuk menyeberangi sungai maupun menuju wilayah tertentu yang hanya bisa dinaiki oleh manusia dan barang. Sedangkan untuk mengangkut kendaraan, kapal feri sempat beroperasi menyeberangi sungai dari pelabuhan Harapan Baru, Samarinda Seberang ke pelabuhan Samarinda Kota. Namun, sejak pembangunan dan beroperasinya Jembatan Mahakam pada tahun 1987, tambangan dan ketinting mulai berkurang penumpangnya meski tak signifikan. Tetapi, yang paling merasakan kerugian adalah kapal feri hingga akhirnya pelayaran ditutup. Selain itu sudah dibangun dan diresmikan pada 2009 Jembatan Mahakam Ulu dan Jembatan Mahkota II (dalam tahap konstruksi).

Di kota Samrinda saat ini sedang dibangun jalan bebas hambatan sejenis jalan tol, yaitu freeway yang menghubungkan Samarinda dengan Balikpapan dengan waktu tempuh 1 jam. Selain itu, terdapat pula Bandar Udara Temindung yang merupakan bandar udara yang menghubungkan Samarinda dengan kota-kota di pedalaman serta Balikpapan. Bandar Udara Sungai Siring pun sedang dibangun yang nantinya dapat didarati oleh pesawat yang lebih besar.

Sesuai hasil sensus penduduk tahun 2010, kota Samarinda mempunyai jumlah penduduk sebanyak 799.972 orang dengan kepadatan penduduk rata-rata 1.143 Org/Km2. Rata-rata kebutuhan hidup minimum di kota ini pun cukup tinggi melebihi kota Jakarta yaitu sebesar Rp 1.339.455 sedangkan rata-rata Upah Minimum Regional yaitu sebesar Rp 1.047.500. Jumlah pengangguran pun tercatat pada tahun 2010 sebanyak 14.305 orang sedangkan jumlah penduduk miskin tercatat 28.058 orang. Menurut Data Pokok Pendidikan (Dapodik) pada tahun ajaran 2010/2011 terdapat 125.924 siswa di Samarinda dan 685 sekolahan. Selain itu terdapat 3 perguruan tinggi negeri dan 24 perguruan tinggi swasta lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan di luar pulau Jawa masih sangat kurang.

Kota Samarinda mempunyai visi dan misi yang lebih berorientasi kepada kota jasa dan perdagangan, karena sektor Pelayanan (Service) memberikan kontribusi yang besar terhadap perekonomian Kota Samarinda. Sesuai angka PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) sektor ini mencatat kontribusi sebesar 63,81 persen pada tahun 2009. Angka ini telah menggeser sektor Pembuatan (Manufacture) dan Pertanian (Agriculture) yang terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun.

Sebagai Kota Jasa dan Perdagangan, peningkatan perindustrian di Kota Samarinda termasuk dalam kategori yang pesat, terutama kelompok Industri Kecil Menengah (IKM). Sampai tahun 2009, jumlah IKM di Kota Samarinda adalah 1,033 unit, meningkat 6 % dari tahun 2008. Perkembangan IKM berdampak positif terhadap investasi di Kota Samarinda. Investasi yang diperoleh dari IKM mencapai 175.7 milyar rupiah pada tahun 2009, meningkat hampir 26 milyar rupiah dari tahun 2008. Selain berdampak positif pada investasi, IKM juga memberikan dampak yang sama pada penyerapan jumlah tenaga kerja.

Sektor perdagangan menjadi sasaran utama dalam pembangunan Kota Samarinda. Selama tahun 2009 terjadi perkembangan yang sangat signifikan dalam hal sarana perdagangan. Dalam kurun waktu 2008-2010, telah beroperasi 2 mall/plaza baru yaitu Plaza Mulia dan Samarinda Square. Berdasarkan data Dinas Pasar Kota Samarinda, total penerimaan Pajak dan Retribusi pasar sebesar 2.05 milyar rupiah, tercapai 102 % dari target sebesar 2 milyar rupiah. Kondisi tersebut terjadi pada tahun 2009, sedangkan tahun 2008 realisasi tercapai 1.87 milyar rupiah.

Selain pasar tradisional dan modern, Usaha Kecil dan Menengah juga ikut memegang peranan dalam pertumbuhan perekonomian Kota Samarinda. Semenjak tahun 2004 hingga 2009, jumlah pengusaha UKM semakin bertambah. Perkembangan yang sangat pesat terjadi pada pengusaha UKM sector perdagangan, pada tahun 2004 jumlah pengusaha hampir mencapai 1,600 orang, sedangkan pada masa itu pengusaha sector lain baru mencapai 400 orang. Memasuki tahun 2010, jumlah pengusaha UKM seluruh sector mencapai 3,905 orang, dimana 2,560 diantaranya adalah pengusaha sektor perdagangan.

Kota Samarinda juga memiliki potensi sumber daya alam yang kaya, yang perlu dikembangkan dan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Di sektor pertanian, Kota Samarinda masih diarahkan untuk mewujudkan pertanian yang tangguh, maju dan efisien yang dicirikan oleh kemampuan mensejahterakan para petani dan keluarganya serta mendorong pertumbuhan sektor terkait dan ekonomi secara keseluruhan. Namun, berdasarkan visi Kota Samarinda yang lebih berorientasi kepada Kota Jasa dan Perdagangan, maka bisa dipastikan bahwa sector pertanian belum dimaksimalkan kontribusinya dalam mendukung perekonomian Kota Samarinda. Sampai tahun 2009, potensi sumber daya lahan usaha tani terdiri dari potensi lahan sawah seluas 8,021 Ha, dan potensi lahan bukan sawah seluas 27,221 Ha. Luas Potensi lahan sawah yang telah dimanfaatkan hanya sebesar 2,779 Ha (34 %), sedangkan sisanya masih belum dimanfaatkan.
Kota Samarinda memiliki 13 jenis komoditi di bidang perkebunan, antara lain karet, kelapa, kelapa hybrid, kelapa sawit, kakao, kopi, lada, cengkeh, pala, kemiri, aren, panili, dan pinang. Dari semua jenis komoditi tersebut, karet, kelapa, dan kakao merupakan komoditi unggulan. Dari sisi produktivitas, yang dihitung melalui jumlah produksi per luas lahan, komoditas kelapa merupakan komoditas dengan produktivitas tertinggi yaitu 1,515 kg per hektar.

Khusus sektor kehutanan, Kota Samarinda lebih fokus kepada pengembangan Hutan Kota dan Hutan Rakyat. Hutan Kota di Kota Samarinda tersebar ke 24 lokasi. Hutan Hak/Hutan Rakyat di Kota Samarinda tersebar di 2 kecamatan, yaitu Kecamatan Samarinda Ilir dan Kecamatan Sungai Kunjang. Total Hutan Rakyat di Kecamatan Samarinda Ilir adalah 166.7 Ha yang tersebar di 13 kelurahan dengan 26 jenis tanaman. Jenis tanaman tersebut antara lain Tanjung, Mahoni, Trembesi, Angsana, Pinang, Akasia, Karet, Rambutan, Kelapa, Sungkai, Durian, Pinus, Pulai, Mangga, Nangka, Aren, Sukun, Sengon, Langsat, Terap, Jati, Kemiri, Lai, Ketapang, Bambu dan Beringin. Sedangkan Hutan Rakyat di Kecamatan Sungai Kunjang adalah 84.8 Ha yang tersebar di 7 kelurahan dimana terdapat tanaman Jambu, Sawit, Petai dan Cempedak.

Produksi perikanan di Kota Samarinda pada tahun 2009 mencapai 13,049.6 ton, terdiri dari hasil penangkapan sebesar 12,942 ton dan hasil budidaya sebesar 107.6 ton. Dilihat dari jenis kegiatan, produksi yang berasal dari penangkapan jauh lebih banyak dibanding dari budidaya. Namun bila dipandang dari nilai produksi, kegiatan budidaya mengalami peningkatan yang signifikan, mencapai 43.66 % dari tahun 2008 yang hanya mencapai 74.90 ton.

Di sektor peternakan, sapi, kambing dan ayam pedaging merupakan komoditas unggulan Kota Samarinda. Akhir tahun 2009, populasi sapi tersedia 5,253 ekor, kambing 19,289 ekor dan ayam pedaging 5,500,800 ekor. Secara keseluruhan, populasi ternak dan unggas di Kota Samarinda mengalami peningkatan.

Salah satu kegiatan dalam memanfaatkan sumber daya alam adalah kegiatan pertambangan yang hingga saat ini merupakan salah satu sector penyumbang devisa Negara terbesar. Kota Samarinda mengembangkan sektor pertambangan dengan optimal melalui Minyak Mentah, Gas Alam dan Batubara sebagai komoditi pertambangan. Berdasarkan data Dinas Pertambangan dan Energi, total luas areal pertambangan sampai tahun 2009 adalah 46,921.80 Ha atau 65.35 % dari luas Kota Samarinda. Produksi terjual (lifting) minyak mentah tahun 2009 sebesar 19,680 Barel atau setara dengan 3,129.12 ton, gas alam sebesar 4,713,770 MMBTU, dan batu bara sebesar 574,811.83 ton. Secara keseluruhan produksi pertambangan di Kota Samarinda terjadi penurunan khususnya untuk batubara dan minyak mentah.

Pengembangan sektor kepariwisataan di Kota Samarinda diarahkan kepada pariwisata sebagai salah satu motor penggerak perekonomian di Kota Samarinda. Kota Samarinda menyimpan beraneka objek wisata, yang dibagi menjadi 4 kategori antara lain kategori alam, kategori sejarah dan budaya, kategori wisata buatan, dan kategori kehidupan masyarakat tradisional.

Kategori alam terdiri dari hutan, sungai dan danau. Di kota Samarinda terdapat Kebun Raya Unmul Samarinda (KRUS) yang merupakan salah satu objek wisata terbesar di Kota Samarinda, karena memakan hampir 300 Ha dan jumlah pengunjung mencapai 120,997 orang per tahun. KRUS merupakan hutan pendidikan dan Botani yang dikelola oleh Universitas Mulawarman dan Pemerintah Kota Samarinda. Untuk objek wisata sungai dan danau dapat kita temui di tepian Mahakam, air terjun tanah merah indah, wisata alam air terjun pinang seribu, air terjun lubang muda, dan waduk jala tunda.

Khusus objek wisata sejarah dan budaya, Kota Samarinda memiliki 3 objek wisata antara lain sejarah dan budaya, makam, dan monumen. Untuk kategori sejarah dan budaya, Budaya Pampang merupakan objek wisata yang lebih terkenal di banding objek yang lain. Kebudayaan dan gaya hidup penduduk sekitar yang merupakan suku dayak menjadi daya tarik tersendiri bagi pendatang dari dalam maupun luar negeri. Selain Budaya Pampang, Pelas Tahun, Masjid Tua dan Masjid Raya Darussalam termasuk daya tarik wisata dalam kategori sejarah dan budaya.

Salah satun objek wisata makam adalah Makam Lamohang Daeng Mangkona Bergelar Puo Ado. Lokasi ini dipercayai sebagai cikal bakal berdirinya Kota Samarinda. Selain itu, objek wisata lainnya berupa Makam Sungai Kerbau yang masih berpotensi untuk dikembangkan. Sedangkan objek wisata monumen, terdapat Tugu Kuburan Tentara Jepang dan Tugu Kuburan Tentara Belanda yang keduanya terletak di Loa Buah memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan lebih jauh.

Objek wisata buatan terdiri atas taman bermain, minat khusus / hobby, dan pusat perbelanjaan. Taman bermain lebih cenderung sebagai taman rekreasi. Pagar Alam yang memiliki kebun bunga dan buah merupakan objek wisata taman bermain yang terletak di kelurahan tanah merah dan sedang dalam masa pengembangan. Jessica Water Park yang terletak di perumahan Pesona Mahakam Samarinda Seberang termasuk kedalam objek wisata taman bermain.

Untuk objek wisata minat khusus / hobby, kategori ini mayoritas dihuni oleh kolam pemancingan Talang Sari, Tanah Merah dan Rapak Mahang Lestari. Selain itu, Penangkaran Buaya di Kelurahan Makroman juga termasuk objek wisata minat khusus/hobby. Di kota Samarinda terdapat pusat perbelanjaan yang terdiri atas pusat perbelanjaan Citra Niaga, Mesra Indah, Lembuswana Mall, Samarinda Central Plaza, Plaza Mulia, dan Samarinda Square.

Untuk objek wisata Kehidupan Masyarakat Tradisional, terdiri atas Kerajinan Sarung Samarinda yang ditenun secara tradisional. Wisata ini terletak di Kelurahan Baqa dan Masjid Samarinda Seberang. Selain itu, kebudayaan Suku Dayak Kenyah yang bermukim di Desa Pampang termasuk objek wisata kategori ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s