Monthly Archives: April 2011

Pertumbuhan dengan Kemiskinan

Standar

Dari satu segi, kondisi makro ekonomi Indonesia berada dalam keadaan yang cukup meyakinkan. Tingkat inflasi relatif cukup terkendali pada tingkat satu digit, import-eksport berjalan cukup baik, tingkat bunga lumayan rendah dan cadangan devisa cukup tinggi untuk dapat menjamin import dalam waktu sedang, investasi cukup tinggi. Tetapi dari segi mikro, pengangguran dan kemiskinan makin meningkat. Urbanisasi meningkat terutama dari kelompok miskin dan pengemis. Tidak hanya di Jakarta, tetapi juga disemua kota-kota besar seluruh Indonesia. Semua ini menandakan adanya kemiskinan dan sempitnya kesempatan kerja di pedesaan.

Dibandingkan dengan banyak negara lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak rendah. Bahkan ketika krisis keuangan global yang menimpa hampir semua negara, sebagai akibat dari krisis kredit perumahan (prime morgate loans) di Amerika, yang bermula pada tahun 2006 sampai tahun 2009, ekonomi Indonesia tidak mengalami goncangan yang berarti.

Kemampuan untuk meredam akibat dari keuangan ini dapat terjadi berkat kebijakan makro ekonomi yang hati-hati dan tepat, di samping kondisi keterbukaan yang memang tidak sebesar negara-negara tetangga seperti Singapore dan Malaysia. Sayangnya keberhasilan dalam bidang ekonomi pada tataran makro ini tidak mampu menekan tingkat kemiskinan yang sejak lama sudah berlangsung.

Selama masa yang panjang, sejak beberapa dekade yang lalu, di Indonesia berlangsung proses pemiskinan desa secara berkelanjutan. Dalam Era Orde Baru dikenal kebijaksanaan peningkatan ekspor non-migas. Sub-sektor industri non migas ini menjadi prioritas utama. Berbagai fasilitas diberikan kepada sektor ini, termasuk hak untuk membayar upah buruh rendah.

Upah buruh murah ini memang telah menjadi trade mark Indonesia dalam promosi penarikan modal asing. Asumsi yang dipakai, bahwa dengan upah buruh yang murah, maka harga pokok barang-barang yang diproduksi akan murah. Dengan demikian, produk eksport Indonesia mempunyai daya saing yang tinggi. Padahal, meskipun harga pokok mempunyai korelasi dengan daya saing, karena barang dapat dijual dengan harga murah, tetapi daya saing suatu barang tidak sekadar ditentukan oleh harga (pokok), tetapi juga oleh kualitas barang, teknik marketing , politik/ diplomasi dan lain-lain.

Agar buruh (termasuk PNS) dapat hidup, maka harga bahan makanan harus dapat dipertahankan rendah. Inilah yang menjadi tugas pokok Bulog sejak waktu itu. Jika harga bahan makanan dalam negeri naik, Bulog segera harus mengimpor dari luar negeri. Rendahnya harga bahan makanan yang note bene hasil produksi petani, mengakibatkan terjadinya proses pemiskinan petani di daerah pedesaan secara berkelanjutan.

Perbedaan dua kondisi yang yang berlangsung secara terus menerus tersebut selama masa yang panjang telah mengakibatkan semakin melebarnya ketimpangan ekonomi antar penduduk di Indonesia. Hal yang perlu diindahkan adalah, jika ketimpangan pendapatan antar penduduk sudah sangat lebar, akan terdapat kecenderungan mengaburnya pertumbuhan ekonomi sebagai ukuran dari pembangunan. Artinya, setiap kita melihat adanya pertumbuhan ekonomi yang ditunjukkan oleh peningkatan pendapatan per kapita, sulit dirasakan, pada saat yang sama boleh jadi sedang berlangsung proses pemiskinan.

Sebagai contoh dari keadaan ini dapat ditunjukkan dengan angka-angka sederhana sebagai berikut:
Jika misalnya, suatu negara berpenduduk 100 juta orang, terdapat 5% penduduk dengan pendapatan rata-rata US$ 300.000 per tahun, sementara 95% lainnya berpendapatan US $ 3000 per tahun (setingkat pendapatan rata-rata Indonesia sekarang). Andaikan, jika golongan penduduk kaya yang 5% itu naik pendapatannya 10% per tahun, sementara golongan menengah ke bawah yang 95% itu mengalami penurunan pendapatan per tahun sebesar 20%, akan terjadi kenaikan pendapatan rata-rata sebesar 5,21%. Hal ini dapat ditunjukan dengan perhitungan sederhana seperti berikut.

1. Total pendaptan semula adalah:
a. 5 Juta X US$ 300.000 = US$ 1.500.000
b. 95 Juta X US$ 3.000 = US$ 285.000
Total pendaptan US$ 1.785.000

2. Kalau kemudian terjadi kenaikan pendapatan 10% dari golongan kaya (5%), dan pendaptan golongan miskin turun 20%, maka akan terlihat:

a. Total pendapatan penduduk kaya yang 5% menjadi = US$ 1.500.000 + US$ 150.000 = US$ 1.650.000
b. Total pendapatan penduduk menengah dan miskin yang 95% adalah = US$ 285.000 – US$ 57.000 = US$ 228.000.

3. Total pendapatan nasional baru adalah = US$ 1.650.000 + US$ 228.000 = US$ 1.878.000. Ini berarti telah terjadi pertumbuhan ekonomi sebesar =

US$ 1878.000 – US$ 1.785.000 = US$ 93.000 atau sama dengan (93.000 / 1.785.00) x 100% = 5,21%.

Dengan demikian dapat dipahami mengapa meskipun kita mengalami kenaikan pendapatan per kapita setiap tahun sekitar 5 – 6%, kemiskinan dalam masyarakat makin bertambah. Inilah barangkali yang dapat disebutkan sebagai growth with poverty atau bisa kita singkat sebagai groverty, atau dalam bahasa Indonesia dapat disebut sebagai pertumbuhan dengan kemiskinan atau disingkat sebagai pertumkin. Meskipun contoh tersebut memang dikemukakan secara agak menyolok, tetapi bagaimanapun, inilah yang sedang terjadi di Indonesia dewasa ini.

Akibat dari keadaan ini tidak mengherankan, kalau di satu pihak ada yang mengklaim bahwa proses pembangunan nasional berjalan mulus, ditandai dengan kenaikan pendapatan per kapita tiap tahun. Di lain pihak ada yang menuduh, pembangunan ekonomi gagal karena tidak dapat menghilangkan kemiskinan.

Singkatnya, yang menjadi masalah adalah melebarnya ketimpangan ekonomi antar penduduk dalam masyarakat, yang tidak sepenuhnya dapat ditunjukkan hanya dengan menggunakan indeks gini ratio. Untuk mengatasinya, diperlukan adanya pengamatan yang lebih seksama di lapangan dan kebijakan yang bersifat affirmatif memihak kepada golongan miskin, terutama kepada mereka yang ada di pedesaan.

Iklan

Metropolitan Priority Areas

Standar

Indonesia dan Jepang telah menyepakati sembilan proyek pengembangan infrastruktur kota metropolitan atau Metropolitan Priority Areas (MPA). Program Prioritas Wilayah Metropolitan (MPA) adalah kerja sama infrastruktur pengembangan kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Proyek senilai lebih dari 20 milyar USD tersebut rencananya akan dibangun pada 2013. Ini sesuai dengan hasil pertemuan antara Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa dengan Wakil Menteri Luar Negeri Jepang Makiko Kukita, di Jakarta tanggal 17 Maret 2011 yang lalu.

Pembangunan ini merupakan tindak lanjut dari program Greater Jakarta. Adapun sembilan proyek itu terkait pelabuhan internasional, terdiri dari perbaikan dan perluasan Tanjung Priok dan pembangunan pelabuhan internasional baru. Peningkatan kapasitas areal industri di Jakarta Timur, pembangunan transportasi cepat masal (MRT), peningkatan jaringan jalan di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek).

Kemudian, pengembangan bandara Soekarno Hatta, termasuk didalamnya pembangunan akses kereta api bandara. Pengembangan sistem distribusi air bersih di Jabodetabek, pembangunan sistem pengolahan limbah di Jawa Barat, pengembangan sistem pengendalian banjir dan pembangunan pembangkit listrik dan infrastruktur energi lainnya.

Pertemuan tersebut selain membahas mengenai penetapan fast track project atau pelaksanaan proyek yang mendesak dalam rangka Greater Jakarta, ada dua agenda lain yang ikut dibahas. Agenda itu adalah Indonesia dan Jepang dalam membuat masterplan tentang MPA akan segera dimulai bulan Mei 2011. Diperkirakan, penyusunan masterplan akan memakan waktu satu tahun. Masterplan ini tidak hanya dibuat berkaitan dengan substansi, akan tetapi juga mengarah pada skema pembiayaan. MPA itu nantinya dilaksanakan dengan skema PPP(kemitraan pemerintah-swasta) yaitu dengan melibatkan sektor swasta dari kedua negara. Karena dibutuhkan dana senilai total 60 miliar dollar AS agar program percepatan pembangunan ini bisa terlaksana.

Disepakati pula adanya pertemuan High Level Consultationpada bulan Juni 2011, dimana dalam pertemuan ini akan dibahas hal-hal yang terkait dengan peraturan-peraturan baru Indonesia yang akan diprpmosikan. Antara lain, terkait perpajakan, kepabeanan, terkait bagaimana mempercepat FDI (Foreign Direct Investmen), hambatan investasi, dan semua hal yang berkaitan dengan suksesnya pembangunan proyek MPA.

Tumbuhkan Jiwa Kewirausahaan

Standar

Pengangguran Pemuda adalah Individu/Manusia yang termasuk kategori usia produktif (16-30 thn) yang tidak melanjutkan sekolah dan tidak mempunyai pekerjaan. Menurut Badan Pusat statistik Indonesia tercatat sejumlah 7,4 juta orang pemuda yang termasuk dalam kategori usia produktif yang mengganggur. Itu setara dengan 7,14% dari jumlah penduduk Indonesia yang kini mencapai 237,8 juta orang. Dan jika dilihat dari latar belakang pendidikannya, maka 27,09 persen berpendidikan SD kebawah, 22,62 persen berpendidikan SLTP, 25,29 Persen berpendidikan SMA, 15,37 Persen berpendidikan SMK. Sedangkan jika dilihat lokasi desa/kota, maka penyebaran dari Pemuda ini terlihat sebanyak 5,24 juta orang (53%)berada di perkotaan dan 4,2 juta orang berada di pedesaan.

Mengingat data pengangguran pemuda masih cukup tinggi, apabila tidak memperoleh perhatian yang serius akan mengakibatkan masalah sosial yang cukup tinggi pula. Beberapa masalah sosial yang diakibatkan oleh tingginya pengangguran diantaranya penyalahgunaan narkoba, kriminalitas, pergaulan bebas, premanisme, trafficing, dan lain sebagainya. Kondisi tersebut akan mengganggu pembangunan di segala bidang dan stabilitas nasional.

Fokus utama pemerintah saat ini adalah berusaha menyediakan lapangan kerja bagi para pengangguran. Salah satu lapangan pekerjaan yang potensial adalah pegawai instansi negara. Namun, sektor itu tidak mungkin bisa menyerap semua pengangguran. Oleh karena itu, Presiden meminta masyarakat untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan sebagai salah satu sektor penyerapan tenaga kerja.

Untuk mengatasi hal tersebut maka pemerintah melaksanakan dengan dua jalur solusi, yaitu Pendidikan Formal. Kedua, Program Kewirausahaan Pemuda dengan cara untuk memberikan kesempatan belajar (langsung) bagi pemuda usia produktif agar memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan yang ditopang oleh sikap mental kreatif, inovatif, profesional, bertanggung jawab, serta berani menanggung resiko dalam mengelola potensi diri dan lingkungannya sebagai bekal untuk peningkatan kualitas hidupnya.

Sebagian besar pemuda Indonesia menjadi wirausaha, namun adanya pemahaman yang kurang ‘pas’ terhadap kewirausahaan menghambat mereka untuk mewujudkannya. Faktor penyebab ketidak inginan menjadi wirausaha adalah merasa tidak mempunyai modal, merasa tidak berbakat, dan risiko bisnis terlalu besar. Upaya menyadarkan masyarakat (khususnya kelompok sasaran potensial, seperti: mahasiswa, generasi muda) perlu terus dilakukan, terutama mengenai:
1.) modal bukan satu-satunya kunci sukses wirausaha,
2.) kesuksesan wirausaha lebih ditentukan oleh kejelian dan keuletan wirausaha daripada bakatnya, dan
3.) risiko usaha dapat diminimalisasi dengan cara membuat perencanaan bisnis yang baik.

Kemampuan teknik dan kemampuan bisnis yang dimiliki generasi muda ini akan mampu mengubah peluang usaha menjadi usaha baru yang menguntungkan. Penguasaan kemampuan teknik akan mendorong wirausaha untuk melakukan inovasi dan bekerja secara efisien. Pemberian informasi mengenai arah perkembangan produk, perkembangan teknologi produksi dan proses adopsi teknologi akan membantu meningkatkan kemampuan teknik dari wirausaha Indonesia.

Solusi untuk mengatasi pengangguran Pemuda di Indonesia sangat banyak. Hal ini harus dilakukan secara komprehensif dan total. Program-program mengatasi pengangguran tersebut mengedepankan penguatan kecakapan hidup dan kewirausahaan yang komprehensif meliputi personal, sosial dan vocational skills. Keterpaduan antar lembaga yang bersifat horizontal maupun antar lembaga yang bersifat vertikal, dan Penjaminan terjadinya four in one process (rekrutmen, pendidikan dan pelatihan, pemagangan, penyaluran /pemandirian lulusan)

Lembaga Pendidikan baik Formal maupun Non formal harus mampu memberikan layanan pendidikan yang berkualitas dengan semangat kewirausahaan. Kewirausahaan akan mampu menjadi solusi atas Pengangguaran pemuda di Indonesia dengan menghasilkan lulusan yang berbasis kewurausahaan. Semoga kontribusi Positif lembaga pendidikan akan semakin memajukan bangsa Indonesia.

Pemerintah sangat memprioritaskan program kewirausahaan sebagai upaya untuk penyerapan pekerjaan baru. Hal ini merupakan bagian yang utuh untuk memajukan dan memandirikan bangsa Indonesia.

Kota Jasa dan Perdagangan Kalimantan Timur

Standar

Samarinda merupakan ibu kota provinsi Kalimantan Timur, Samarinda berasal dari kata “sama rendah” yang lama-kelamaan ejaannya berubah menjadi Samarinda. Dahulunya Samarinda adalah tempat perkampungan dari suku Bugis, Kutai, Banjar dan suku lainnya. Hal ini dimaksudkan agar semua penduduk, baik asli maupun pendatang berderajat sama. Istilah atau nama ini juga memang sesuai dengan keadaan lahan atau lokasi yang terdiri atas dataran rendah dan daerah persawahan yang subur.

Luas wilayahnya 718 km², terletak di wilayah khatulistiwa dengan koordinat diantara 0°21’81″–1°09’16” LS dan 116°15’16″–117°24’16” BT. Seluruh wilayah kota ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Kartanegara dan dibelah oleh sungai Mahakam. Kota Samarinda beriklim tropis basah, hujan sepanjang tahun. Temperatur udara antara 20 °C – 34 °C dengan curah hujan rata-rata per tahun 1980 mm, sedangkan kelembaban udara rata-rata 85%.

Pesut Mahakam adalah maskot kota Samarinda. Namun saat ini Pesut Mahakam tidak terlihat lagi di sepanjang sungai Mahakam kota Samarinda. Pesut Mahakam terdesak oleh kemajuan kota dan pindah ke hulu sungai. Populasi Pesut Mahakam semakin menurun dari tahun ke tahun. Bahkan menurut sebuah penelitian, Pesut Mahakam sekarang tinggal 50 ekor. Jika tidak dilakukan antisipasi dan pelestarian, maka dalam waktu beberapa tahun saja Pesut Mahakam akan punah, menyusul pesut dari Sungai Irrawaddy dan Sungai Mekong yang sudah terlebih dahulu punah dan Pesut Mahakam adalah pesut air tawar terakhir yang hidup di planet bumi.

Sebagai kota yang dibelah Sungai Mahakam, Samarinda memiliki transportasi air tradisional sejak dahulu, yakni Tambangan dan Ketinting. Tambangan biasa digunakan sebagai alat transportasi menyeberang sungai dari daerah Samarinda Seberang ke kawasan Pasar Pagi. Ketinting menjadi moda transportasi sungai utama untuk menyeberangi sungai maupun menuju wilayah tertentu yang hanya bisa dinaiki oleh manusia dan barang. Sedangkan untuk mengangkut kendaraan, kapal feri sempat beroperasi menyeberangi sungai dari pelabuhan Harapan Baru, Samarinda Seberang ke pelabuhan Samarinda Kota. Namun, sejak pembangunan dan beroperasinya Jembatan Mahakam pada tahun 1987, tambangan dan ketinting mulai berkurang penumpangnya meski tak signifikan. Tetapi, yang paling merasakan kerugian adalah kapal feri hingga akhirnya pelayaran ditutup. Selain itu sudah dibangun dan diresmikan pada 2009 Jembatan Mahakam Ulu dan Jembatan Mahkota II (dalam tahap konstruksi).

Di kota Samrinda saat ini sedang dibangun jalan bebas hambatan sejenis jalan tol, yaitu freeway yang menghubungkan Samarinda dengan Balikpapan dengan waktu tempuh 1 jam. Selain itu, terdapat pula Bandar Udara Temindung yang merupakan bandar udara yang menghubungkan Samarinda dengan kota-kota di pedalaman serta Balikpapan. Bandar Udara Sungai Siring pun sedang dibangun yang nantinya dapat didarati oleh pesawat yang lebih besar.

Sesuai hasil sensus penduduk tahun 2010, kota Samarinda mempunyai jumlah penduduk sebanyak 799.972 orang dengan kepadatan penduduk rata-rata 1.143 Org/Km2. Rata-rata kebutuhan hidup minimum di kota ini pun cukup tinggi melebihi kota Jakarta yaitu sebesar Rp 1.339.455 sedangkan rata-rata Upah Minimum Regional yaitu sebesar Rp 1.047.500. Jumlah pengangguran pun tercatat pada tahun 2010 sebanyak 14.305 orang sedangkan jumlah penduduk miskin tercatat 28.058 orang. Menurut Data Pokok Pendidikan (Dapodik) pada tahun ajaran 2010/2011 terdapat 125.924 siswa di Samarinda dan 685 sekolahan. Selain itu terdapat 3 perguruan tinggi negeri dan 24 perguruan tinggi swasta lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan di luar pulau Jawa masih sangat kurang.

Kota Samarinda mempunyai visi dan misi yang lebih berorientasi kepada kota jasa dan perdagangan, karena sektor Pelayanan (Service) memberikan kontribusi yang besar terhadap perekonomian Kota Samarinda. Sesuai angka PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) sektor ini mencatat kontribusi sebesar 63,81 persen pada tahun 2009. Angka ini telah menggeser sektor Pembuatan (Manufacture) dan Pertanian (Agriculture) yang terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun.

Sebagai Kota Jasa dan Perdagangan, peningkatan perindustrian di Kota Samarinda termasuk dalam kategori yang pesat, terutama kelompok Industri Kecil Menengah (IKM). Sampai tahun 2009, jumlah IKM di Kota Samarinda adalah 1,033 unit, meningkat 6 % dari tahun 2008. Perkembangan IKM berdampak positif terhadap investasi di Kota Samarinda. Investasi yang diperoleh dari IKM mencapai 175.7 milyar rupiah pada tahun 2009, meningkat hampir 26 milyar rupiah dari tahun 2008. Selain berdampak positif pada investasi, IKM juga memberikan dampak yang sama pada penyerapan jumlah tenaga kerja.

Sektor perdagangan menjadi sasaran utama dalam pembangunan Kota Samarinda. Selama tahun 2009 terjadi perkembangan yang sangat signifikan dalam hal sarana perdagangan. Dalam kurun waktu 2008-2010, telah beroperasi 2 mall/plaza baru yaitu Plaza Mulia dan Samarinda Square. Berdasarkan data Dinas Pasar Kota Samarinda, total penerimaan Pajak dan Retribusi pasar sebesar 2.05 milyar rupiah, tercapai 102 % dari target sebesar 2 milyar rupiah. Kondisi tersebut terjadi pada tahun 2009, sedangkan tahun 2008 realisasi tercapai 1.87 milyar rupiah.

Selain pasar tradisional dan modern, Usaha Kecil dan Menengah juga ikut memegang peranan dalam pertumbuhan perekonomian Kota Samarinda. Semenjak tahun 2004 hingga 2009, jumlah pengusaha UKM semakin bertambah. Perkembangan yang sangat pesat terjadi pada pengusaha UKM sector perdagangan, pada tahun 2004 jumlah pengusaha hampir mencapai 1,600 orang, sedangkan pada masa itu pengusaha sector lain baru mencapai 400 orang. Memasuki tahun 2010, jumlah pengusaha UKM seluruh sector mencapai 3,905 orang, dimana 2,560 diantaranya adalah pengusaha sektor perdagangan.

Kota Samarinda juga memiliki potensi sumber daya alam yang kaya, yang perlu dikembangkan dan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Di sektor pertanian, Kota Samarinda masih diarahkan untuk mewujudkan pertanian yang tangguh, maju dan efisien yang dicirikan oleh kemampuan mensejahterakan para petani dan keluarganya serta mendorong pertumbuhan sektor terkait dan ekonomi secara keseluruhan. Namun, berdasarkan visi Kota Samarinda yang lebih berorientasi kepada Kota Jasa dan Perdagangan, maka bisa dipastikan bahwa sector pertanian belum dimaksimalkan kontribusinya dalam mendukung perekonomian Kota Samarinda. Sampai tahun 2009, potensi sumber daya lahan usaha tani terdiri dari potensi lahan sawah seluas 8,021 Ha, dan potensi lahan bukan sawah seluas 27,221 Ha. Luas Potensi lahan sawah yang telah dimanfaatkan hanya sebesar 2,779 Ha (34 %), sedangkan sisanya masih belum dimanfaatkan.
Kota Samarinda memiliki 13 jenis komoditi di bidang perkebunan, antara lain karet, kelapa, kelapa hybrid, kelapa sawit, kakao, kopi, lada, cengkeh, pala, kemiri, aren, panili, dan pinang. Dari semua jenis komoditi tersebut, karet, kelapa, dan kakao merupakan komoditi unggulan. Dari sisi produktivitas, yang dihitung melalui jumlah produksi per luas lahan, komoditas kelapa merupakan komoditas dengan produktivitas tertinggi yaitu 1,515 kg per hektar.

Khusus sektor kehutanan, Kota Samarinda lebih fokus kepada pengembangan Hutan Kota dan Hutan Rakyat. Hutan Kota di Kota Samarinda tersebar ke 24 lokasi. Hutan Hak/Hutan Rakyat di Kota Samarinda tersebar di 2 kecamatan, yaitu Kecamatan Samarinda Ilir dan Kecamatan Sungai Kunjang. Total Hutan Rakyat di Kecamatan Samarinda Ilir adalah 166.7 Ha yang tersebar di 13 kelurahan dengan 26 jenis tanaman. Jenis tanaman tersebut antara lain Tanjung, Mahoni, Trembesi, Angsana, Pinang, Akasia, Karet, Rambutan, Kelapa, Sungkai, Durian, Pinus, Pulai, Mangga, Nangka, Aren, Sukun, Sengon, Langsat, Terap, Jati, Kemiri, Lai, Ketapang, Bambu dan Beringin. Sedangkan Hutan Rakyat di Kecamatan Sungai Kunjang adalah 84.8 Ha yang tersebar di 7 kelurahan dimana terdapat tanaman Jambu, Sawit, Petai dan Cempedak.

Produksi perikanan di Kota Samarinda pada tahun 2009 mencapai 13,049.6 ton, terdiri dari hasil penangkapan sebesar 12,942 ton dan hasil budidaya sebesar 107.6 ton. Dilihat dari jenis kegiatan, produksi yang berasal dari penangkapan jauh lebih banyak dibanding dari budidaya. Namun bila dipandang dari nilai produksi, kegiatan budidaya mengalami peningkatan yang signifikan, mencapai 43.66 % dari tahun 2008 yang hanya mencapai 74.90 ton.

Di sektor peternakan, sapi, kambing dan ayam pedaging merupakan komoditas unggulan Kota Samarinda. Akhir tahun 2009, populasi sapi tersedia 5,253 ekor, kambing 19,289 ekor dan ayam pedaging 5,500,800 ekor. Secara keseluruhan, populasi ternak dan unggas di Kota Samarinda mengalami peningkatan.

Salah satu kegiatan dalam memanfaatkan sumber daya alam adalah kegiatan pertambangan yang hingga saat ini merupakan salah satu sector penyumbang devisa Negara terbesar. Kota Samarinda mengembangkan sektor pertambangan dengan optimal melalui Minyak Mentah, Gas Alam dan Batubara sebagai komoditi pertambangan. Berdasarkan data Dinas Pertambangan dan Energi, total luas areal pertambangan sampai tahun 2009 adalah 46,921.80 Ha atau 65.35 % dari luas Kota Samarinda. Produksi terjual (lifting) minyak mentah tahun 2009 sebesar 19,680 Barel atau setara dengan 3,129.12 ton, gas alam sebesar 4,713,770 MMBTU, dan batu bara sebesar 574,811.83 ton. Secara keseluruhan produksi pertambangan di Kota Samarinda terjadi penurunan khususnya untuk batubara dan minyak mentah.

Pengembangan sektor kepariwisataan di Kota Samarinda diarahkan kepada pariwisata sebagai salah satu motor penggerak perekonomian di Kota Samarinda. Kota Samarinda menyimpan beraneka objek wisata, yang dibagi menjadi 4 kategori antara lain kategori alam, kategori sejarah dan budaya, kategori wisata buatan, dan kategori kehidupan masyarakat tradisional.

Kategori alam terdiri dari hutan, sungai dan danau. Di kota Samarinda terdapat Kebun Raya Unmul Samarinda (KRUS) yang merupakan salah satu objek wisata terbesar di Kota Samarinda, karena memakan hampir 300 Ha dan jumlah pengunjung mencapai 120,997 orang per tahun. KRUS merupakan hutan pendidikan dan Botani yang dikelola oleh Universitas Mulawarman dan Pemerintah Kota Samarinda. Untuk objek wisata sungai dan danau dapat kita temui di tepian Mahakam, air terjun tanah merah indah, wisata alam air terjun pinang seribu, air terjun lubang muda, dan waduk jala tunda.

Khusus objek wisata sejarah dan budaya, Kota Samarinda memiliki 3 objek wisata antara lain sejarah dan budaya, makam, dan monumen. Untuk kategori sejarah dan budaya, Budaya Pampang merupakan objek wisata yang lebih terkenal di banding objek yang lain. Kebudayaan dan gaya hidup penduduk sekitar yang merupakan suku dayak menjadi daya tarik tersendiri bagi pendatang dari dalam maupun luar negeri. Selain Budaya Pampang, Pelas Tahun, Masjid Tua dan Masjid Raya Darussalam termasuk daya tarik wisata dalam kategori sejarah dan budaya.

Salah satun objek wisata makam adalah Makam Lamohang Daeng Mangkona Bergelar Puo Ado. Lokasi ini dipercayai sebagai cikal bakal berdirinya Kota Samarinda. Selain itu, objek wisata lainnya berupa Makam Sungai Kerbau yang masih berpotensi untuk dikembangkan. Sedangkan objek wisata monumen, terdapat Tugu Kuburan Tentara Jepang dan Tugu Kuburan Tentara Belanda yang keduanya terletak di Loa Buah memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan lebih jauh.

Objek wisata buatan terdiri atas taman bermain, minat khusus / hobby, dan pusat perbelanjaan. Taman bermain lebih cenderung sebagai taman rekreasi. Pagar Alam yang memiliki kebun bunga dan buah merupakan objek wisata taman bermain yang terletak di kelurahan tanah merah dan sedang dalam masa pengembangan. Jessica Water Park yang terletak di perumahan Pesona Mahakam Samarinda Seberang termasuk kedalam objek wisata taman bermain.

Untuk objek wisata minat khusus / hobby, kategori ini mayoritas dihuni oleh kolam pemancingan Talang Sari, Tanah Merah dan Rapak Mahang Lestari. Selain itu, Penangkaran Buaya di Kelurahan Makroman juga termasuk objek wisata minat khusus/hobby. Di kota Samarinda terdapat pusat perbelanjaan yang terdiri atas pusat perbelanjaan Citra Niaga, Mesra Indah, Lembuswana Mall, Samarinda Central Plaza, Plaza Mulia, dan Samarinda Square.

Untuk objek wisata Kehidupan Masyarakat Tradisional, terdiri atas Kerajinan Sarung Samarinda yang ditenun secara tradisional. Wisata ini terletak di Kelurahan Baqa dan Masjid Samarinda Seberang. Selain itu, kebudayaan Suku Dayak Kenyah yang bermukim di Desa Pampang termasuk objek wisata kategori ini.

Tentukan Investasi yang Tepat Bagi Anda

Standar

Investasi telah menjadi bagian dari kehidupan keuangan masyarakat umum, namun apakah masyarakat telah melakukan investasi secara benar? Jangan sampai masyarakat atau investor menjadi korban permainan investasi. Sering sekali investasi yang dilakukan masyarakat melenceng dari kaidah investasi, dan yang dilakukan sebenarnya bukanlah berinvestasi, tetapi berspekulasi. Investasi dan spekulasi adalah dua hal yang berbeda.

Investasi berdasarkan logika, pertimbangannya bisa dipertanggungjawabkan, sedangkan spekulasi berdasarkan perasaan dan emosional. Contohnya, mana ada investasi yang bisa memberikan imbal hasil puluhan persen per bulan secara terus-menerus. Bahkan seorang trader saham yang paling jago sekalipun tidak bisa secara kontinu meraup keuntungan. Pasti ada suatu waktu mengalami kerugian karena tidak semua faktor yang mempengaruhi pergerakan saham bisa dikontrol. Kalau ada investasi yang berani menawarkan imbal hasil besar secara rutin, maka investasi seperti itu pantas dicurigai dan kerap kali hanyalah berupa money game belaka.

Pada dasarnya seseorang yang ingin berinvestasi sebaiknya memilih investasi dan menentukan tujuan investasi secara benar, termasuk merancang portofolio investasi untuk mencapai tujuan investasi itu sendiri. Dalam pembuatan portofolio ini didasarkan pada tujuan investasi, termasuk di dalamnya jangka waktu dan imbal hasil yang diharapkan. Di sisi lain, karakter personal seorang investor merupakan salah satu kunci dalam menyusun dan melaksanakan portofolio investasi yang dirancang.

Secara umum ada tiga jenis portofolio investasi, konservatif, moderat, dan agresif. Jika calon investor masih berkategori pemula dan tergolong penghindar resiko, maka portofolio investasi yang cocok buat kalangan ini adalah portofolio konservatif. Portofolio ini beresiko relatif rendah, hasil timbal baliknya pun tidak terlalu tinggi seperti deposito berjangka, reksa dana, dan obligasi ritel. Investasi tanah juga bisa dimasukkan dalam portofolio ini. Portofolio investasi ini juga cocok bagi kalangan yang berprofesi sebagai karyawan berpendapatan tetap dan berusia di atas 50 tahun, karena biasanya kalangan seperti ini hanya berharap hasil investasinya bisa menambah pemasukan ketika yang bersangkutan sudah tidak berproduktif lagi, bukan untuk melipat gandakan kekayaan.

Selanjutnya adalah portofolio investasi jenis moderat. Portofolio moderat berada di antara konservatif dan agresif. Maksudnya, dari sisi imbal hasil mestinya bisa memberikan pengembalian lebih tinggi, tetapi juga dengan resiko yang lebih besar dibandingkan dengan portofolio konservatif. Instrument portofolio investasi moderat bisa terdiri atas deposito berjangka, reksa dana saham, dan properti. Properti ini bisa berupa apartemen atau juga tanah plus bangunan rumah di atasnya.

Adapun portofolio yang paling berpotensi memberikan keuntungan besar adalah yang berkategori agresif. Dalam jenis ini, investor menempatkan dananya dalam instrumen investasi yang beresiko tinggi seperti saham. Sebaiknya portofolio ini hanya dilakukan oleh kalangan yang telah memiliki pengetahuan memadai agar tidak menyesal nantinya.