Ekspor Indonesia Pasca Gempa dan Tsunami Jepang

Standar

Gempa yang menimpa Jepang tanggal 11 Maret 2011 lalu diperkirakan akan mempengaruhi beberapa komoditi ekspor Indonesia. Berbagai kalangan pengusaha Indonesia khawatir sekaligus bersiap-siap menghadapi pasar ekspor Jepang yang bakal merosot pasca gempa dan tsunami. Hasil perikanan yang di ekspor ke Jepang diperkirakan akan mengalami penurunan. Di Bali diprediksikan hasil ekspor ikan tuna akan menurun hingga 25 persen dalam dua bulan ke depan.

Para pengusaha di Maluku saat ini belum merasakan dampak dari musibah yang menimpa Jepang karena ekspor ke Jepang biasanya dilakukan pada musim panen ikan, sekitar bulan Agustus. Namun, dikhawatirkan jika kondisi Jepang belum normal sampai bulan Agustus, maka mereka pun akan ikut merasakan imbas dari bencana ini. Selama ini Jepang menjadi tujuan favorit ekspor karena harga beli ikan lebih tinggi dibandingkan dengan negara tujuan ekspor lain seperti Thailand. Ekspor udang segar dan olahan di Lampung juga memperkirakan adanya penurunan komoditi ekspor.

Ekspor kopi mengalami hal yang berbeda dengan ekspor perikanan. Ekspor kopi dari berbagai daerah di Indonesia ke Jepang dirasakan masih lancar. Eksportir edamame dan mukimame (kedelai khas Jepang yang ditanam di Indonesia) harus mengalihkan kota tujuan ekspor, yaitu dari Kendai ke Yokohama agar tetap bisa memasarkan komoditas mereka. Menurut Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Energi Sumber Daya Mineral ekspor edamame mencapai 5.442.098 dollar AS dan ekspor mukimame mencapai 1.187.717,24 dollar AS.

Pertumbuhan ekonomi Jepang akan melambat sebagai dampak dari bencana ini. Penurunan permintaan minyak dan gas pun diperkirakan akan terjadi. Sebagai akibatnya harga minyak mentah di pasar dunia menurun. Review Statistik tentang Energi Dunia dari British Petroleum 2010, Bloomberg menyebutkan bahwa Jepang merupakan pembeli gas alam cair (LNG) terbesar di dunia yaitu sebesar 35 persen produksi gas dunia. Sedangkan produsen terbesarnya adalah Indonesia, Malaysia, dan Australia. 65 persen ekspor gas alam cair Indonesia diarahkan ke Jepang, hal itu bisa menyebabkan mengganggu penerimaan negara.

Bencana tsunami dan gempa di Jepang juga diperkirakan mendorong peningkatan permintaan batu bara. Karena beberapa pembangkit nuklir di Jepang tidak beroperasi, kemungkinan Jepang akan beralih ke energi lain yang relatife murah yakni batu bara untuk membangkitkan tenaga listrik. Jepang merupakan importir batu bara Indonesia yang cukup signifikan. Hampir 10 persen dari total produksi batu bara Indonesia tahun 2010 diimpor oleh Jepang. Sejauh ini produksi batu bara berorientasi ekspor karena tidak terserap pasar domestic.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s